Selasa, 06 Desember 2016

Like a Rainbow in the Sky (#3)


Chapter 3
 Rabu, 16 maret 2016...                    
Butiran air terjun dari awan hitam. Hitam gelap, disinari kilatan biru yang menyala. Rintikan air membasahi segala yang disentuhnya. Payung pelastik hitam basah karenanya. Awan yang seperti bunga kol itu sedang bersedih, turut berduka kepadaku.
Sudah 2 hari sejak kejadian itu. Aku masih belum dapat melupakannya. Kejadian yang ingin aku lupakan, namun tak dapat kulupakan. Orang orang pernah bilang, semakin berusaha melupakannya, maka semakin ingatlah kepada hal itu. Tapi, apakah hal itu benar?
Aku sekarang tidak berada di kos. Ayah menyuruhku pulang. Aku tidak tahu kenapa, tapi sedikit sakit jika aku meninggalkan kos kosan tua itu. Apa sudah banyak kenangan yang aku torehkan disana? tidak. Aku berada disana baru 1 semester dan itu tidak mungkin. Atau, ada yang lain?
Ayah pulang dari kantornya. Jas hitam berselimutkan mantel putih itu malah mengingatkanku akan sosok ibuku. Ayah tahu kalau aku akan terus mengingatnya. Disini, dirumah ini, sudah banyak kenangan yang kami buat. Namun, kenapa ayah menyuruhku untuk terus mengingat ibu? Bukankah itu malah membuatku semakin sedih?
"Racel, ternyata Racel memang tidak mau mengingat ibu lagi?" Suara parau ayah memecah lamunanku.
"Bukan begitu, Yah. Tapi, semakin aku mengingatnya, semakin rindu aku padanya. aku tahu, kalau dia sudah mendahului kita. Tapi, air mata ini terus mengalir. Aku benci hal ini."
"Kalau begitu, baguslah. Racel, ingat semua apa yang telah ibu lakukan untuk Racel. Ingat semua apa yang ibu ajarkan untuk Racel. Ingat semua a...apa yang ibu... apa yang ibu... katakan untuk Racel. Ingat semua itu, ya nak." Ayah terduduk lemas. Tidak hanya aku yang merasakannya. Ayah juga, dan bahkan ayah sampai menangis seperti itu.
Ayahlah yang paling menyukai ibu. Ayahlah yang paling menyayangi ibu. Tapi, kenapa ayah masih bisa tegar dengan semua ini? kenapa ayah masih dapat melakukan sesuatu seperti biasanya tanpa beban sedikitpun? Apakah dia memang menyukai ibu? Apakah dia memang menyayangi ibu?
Tapi, menurutku itu wajar saja. Mungkin, ibu tidak ingin melihat pria yang dicintainya meneteskan air mata untuknya. Ayah bersikap tegar, agar ibu yang berada dilangit melihatnya dengan bangga. Agar ibu yang menjadi bintang melihatnya dengan senyuman ibu yang manis.
***
Kamis, 17 Maret 2016...
Sekolahpun dimulai pada hari ini. liburan seminggu memang tidak terasa sama sekali. Dan terlebih, kenangan buruk itu terus menghantuiku sepanjang malam. Tapi, aku tidak ingin kenangan itu lepas dariku, lepas dari ingatanku.
Hari ini, seluruh tugas yang diberikan minggu lalu dikumpul. Semua catatan, latihan, tugas folio, serta beberapa modul dan lks menumpuk di ruang majelis guru. Aku tidak yakin, guru akan memeriksa semua tugas kami yang menggunung itu. dan aku juga tidak yakin, kalau dia membuat PR nya.
Aku duduk di pinggiran mushala. Dengan 5 tusuk bakso bakar ditangan kanan serta sebotol minuman mineral ditangan kiriku, bergurau bersama teman teman terdekatku, atau biasa orang panggil sebagai sahabat.
Memang, sahabat itu tidak selalu berjalan mulus. Terkadang, kami terpecah. Terkadang, kami berpisah. Namun, semua itu selalu diakhiri dengan kata 'maaf' dan semuanya kembali normal. Tidak, tidak semuanya kembali normal. Lebih tepatnya, semuanya menjadi lebih erat, dengan mengetahui sifat masing masing setiap individu.
Tidak sepertiku yang selalu berada dikerumunan para sahabat karibku, orang itu selalu membeli kopi botol atau kopi kalengan dan meminumnya sambil berjalan jalan dan kertas aneh yang dia pegang ditangan kirinya.. Rambut acak acakan, serta lingkaran hitam dimatanya, aku dapat membaca dengan jelas apa yang telah ia lakukan kemarin.
"Dia pasti tidak membuat PR lagi tuh." Intan berbisik bisik disaat orang itu berjalan di depan mataku.
"Ya, terlebih gaya rambut apa itu? acak acakan gk jelas gitu. Tak kusangka, kau menyukai orang seperti itu, Rahel." Nadia yang berbicara ceplas ceplos ditambah volume suara yang sengaja dia besarkan, membuatku malu sekaligus menahan emosi. Jika diibaratkan di dunia Anime, mukaku sudah berwarna merah dengan garis garis merah di pipiku.
"A-apa yang kau katakan? Kecilkan suaramu itu. gimana kalau dia mendengarnya?"
"Apa kau tidak berani mengatakannya? Kalau begitu, nanti dia direbut loh" Intan ingin menyemangatiku, tetapi entah kenapa terasa sedikit menyebalkan.
"Jadi, kapan kau akan mengatakannya, Rahel?"
"Tidak tahu. Mungkin, setelah kelulusan kita. saat acara perpisahan."
"Kakak sudah merencanakannya ya. Berani sekali ya, Kak Rahel." Melia tertunduk sebentar. Aku tidak tahu kenapa, tapi wajahnya sedikit terlihat sedih. Adek kelas yang satu ini kalau sedang cemberut atau bersedih pasti akan tampak langsung. Namun kalau sedang ceria, tidak ada dari kami berlima yang bisa menandinginya, apapun yang ia lakukan.
"Hahaha... Rahel kan emang gitu. Tapi, apa tidak masalah? Organisasimu nanti gimana?"
"Iya juga. Tapi, kemungkinan aku tidak mengajaknya pacaran atau apapun. aku hanya ingin mendengar jawabannya saja."
Bel jam pelajaran ke 5 pun dibunyikan. Kali ini, Fur Elise yang dimainkan.
***

 

 

 

Chapter 3 #2


Bel penanda belajar telah usai pun dibunyikan. Aku tidak langsung turun kebawah dan mengambil motor. Melainkan, duduk manis di meja dan memandang lurus kedepan, ke sosok pria yang sedang mengkemasi barang barangnya.
Lacinya parah, penuh dengan kertas gambar dan sampah permen. Berbanding terbalik dengan kamarnya yang rapi dan nyaman itu.
Kami berdua, ditambah dengan 2 orang dari IPA 2 yang kelasnya terletak dibawah. Yah, saat pulang seperti ini, adalah saatnya menggosip, atau dalam Anime biasa disebut dengan obrolan wanita.
Tepat pada pukul 3 sore, aku mendengar langkah kaki dari ujung tangga. 'Mungkin hanya angin lewat' pikirku. Kamipun melanjutkan perbincangan melanjutkan percapakan tadi.
Baru saja dibcarakan, dia sudah nongol didepan pintu. Kami semua terkejut dan khususnya aku, malah salah tingkah. Dia berjalan mendekatiku, dengan tatapan sayu ciri khasnya serta tas sandang satunya yang melingkar dibahu kanannya. Dia terus mendekat, bersamaan dengan jantungku yang terus berdetak semakin cepat.
"Hmm... Kau lagi ngapain, Rahel?"
"Kok senyum senyum sendiri?"
"Ryan juga, kenapa kesini? ketempat Rahel lagi." Ya, suara mereka yang sedang mengolok olokku terdengar menyebalkan, tetapi aku menyukainya. Dia berdiri didepanku, dan masih menatapku menggunakan mata ikannya.
"Ketempat Racel? Jangan bodoh. Ini kursiku, dan aku ingin mengambil barang barangku yang ada didalamnya." Setelah mengambil barang barangnya, dia pergi.
"Negatif"
"Ya, negatif" Intan meniru apa yang Nadia katakan.
"Apa yang negatif oi.."
"Kakak tidak menyadarinya? Ana yang duduk dibelakang kakak saja sudah menyadarinya. Maksud negatif kakak kakak ni, adalah tidak ada harapan kalau kakak akan diterima Kak Ryan. Dan kata kata 'Jangan Bodoh' itu sedikit menyayat hati bagi yang mendengarrnya, terutama bagi yang menyukainya." Melia dengan sinis menjelaskannya sambil memainkan kacamatanya.
Memang sih, kata katanya itu menyakitkan. Walaupun dia aneh, menyebalkan, tapi dia tidak pernah menyakiti orang lain, tidak pernah membuat orang lain menangis, dan selalu memendam semuanya sendiri. Mungkin, jika dibilang aku menyukainya, lebih tepatnya aku ingin menjadi sahabatnya, yang siap menerima segala curhatan hatinya yang terlihat kuat, tetapi kenyataannya lemah.
Aku diam saja, mendengar mereka mengatakan sesukanya. Yah, walaupun aku sedikit terganggu, tetapi apa boleh buat?
Setelah ashar, aku kembali ke tempat kos kosanku. Saat ini, aku sudah kembali tinggal disini, bersebelahan dengan Ryan yang sedikit menyebalkan.
Terdengar suara piano ketika aku masuk. Ini pertama kalinya, aku mendengar suara piano di rumah ini. 'Mungkin hanya musik yang sedang diputar' pikirku. Tapi, aku tidak dapat menemukan sumber suaranya. Aku terus mencarinya, masuk ke segala ruangan. Tapi nihil, aku tidak menemukan apapun disana.
Suara itu sesekali berhenti. Lalu lanjut lagi, dan berhenti lagi. Terkadang, bunyi yang dihasilkan seperti Beethoven, Chopin, dan terkadang seperti Mozart. Aku menyukai piano, dengan nada yang halus nan lembut, serta orang yang memainkannya terasa elegan buatku. Tapi, adakah piano di dalam ruangan ini?
Suaranya terdengar berasal dari kamar Ryan. Tapi, ketiika aku membukanya, tidak tampak satupun benda yang seperti piano, bahkan Ryan pun tidak ada didalam. Kemana dia saat senja kali ini?

Ternyata benar, suaranya memang berasal dari ruangan ini. Dengan rasa penasaran yang kuat, aku menelusuri kamar yang bukan punyaku, dan bahkan ini adalah kamar seorang pria yang aku suka. Sedikit memalukan, tapi aku tidka tahan hanya mendengarkan suara ini dan ingin melihat dari mana sumber suarany.
Didalam lemari, dibawah rak buku, di dalam komputer, dibawah meja belajar, aku tidak menemukannya dimanapun. Satu satunya yang belum aku periksa adalah dibawah tempat tidurnya. Namun, aku tidak berani melihat dibawah kasurnya. Pasalnya, seperti yang ada di beberapa anime, terdapat banyak sampah dibawah tempat tidurnya. Bahkan terkadang, ada kecoa disana. tentu saja, mengingat kejadian baru baru ini yang terjadi dikamarku, aku tidak ingin berurusan dengan kecoa lagi.
Tapi, dengan tekad sekuat baja, aku memberanikan diri menyingkap alas kasurnya, melirik kebawah dan ternyata dibawah tidak ada apapun. baik sampah secuil ataupun remah roti sekecil apapun tidak ada disana. namun, ada seperti garis persegi dibawah nya. Aku tidak tahu apa itu, tapi di kaki kasur pun ada bekas kasur yang posisinya dirubah.
Aku memberanikan diri masuk kebawah kasurnya, dan mencoba mencari tahu persegi apa itu. aku menyentuhnya, namun tidak terjadi apa apa. Namun, ketika aku menyentuh salah satu ujungnya, persegi itu terbuka dan sepertinya aku menyaksikan ruangan rahasia dibawah kasur Ryan.
Suara piano itu terhenti. Aku sangat gugup saat itu, berharap tidak ketahuan dengan orang yang sedang memainkan pianonya. Aku berharap, aku tidak mengganggunya. 'Siapa?' suara bersih nan datarnya membuat jantungku berdetak semakin cepat.
Aku masih diam membisu, dan dia mengulangi pertanyaannya. Aku sempat berfikir, siapa gerangan yang memiliki suara seperti itu? aku yakin aku pernah mendengarnya, tetapi dimana?
Dengan deguban kecil, aku masuk ke ruang bawah tanah yang sedang menungguku. Namun, ini cukup bersih jika ruangan ini jarang digunakan. Jadi, aku berfikir kalau dia selalu menggunakan ruangan ini ataupun selalu merawat ruangan ini. aku bahkan tidak menemukan sarang laba laba ataupun debu debu yang berterbangan di sekitar ruangan ini. Bulu kudukku segera berdiri diterpa dinginnya ruangan ini.
"Oh, ternyata kau. Kau mengangguku saja. Jadi, bagaimana caranya kau menemukan ruangan ini, Racel?" Pria itu duduk di kursi piano hitam mengkilap seperti yang ada di tempat perlombaan piano atau apalah itu. Yang pasti, aku tahu kalau piano ini sangat mahal.
"R-ryan. Ternyata kau yang memainkannya. Aku mencoba mencari sumber suara yang kau hasilkan tadi, dan suara itu membawaku ke ruangan ini." Aku menghela nafas lega setelah tahu siapa yang berada didalam.
"Suara? Tidak. Kau tidak akan bisa mendengar suara apapun diluar. Aku sudah membuat ruangan ini sebagai ruangan kedap suara. Jadi, suaranya tidak akan keluar."
"Serius. Aku mendengarnya tadi. pertama Chopin, terus Beethoven, dan terakhir Mozart. Aku tidak tahu judul atau apalah itu, tapi aku tahu ciri khas para pianis terkenal seperti mereka."
"Ka-kau bisa mendengarnya? Haha... Hahahaha... Kau, kau yang terbaik, Racel." Dia tertawa, namun dengan senyuman aneh. Seharusnya aku senang dia memujiku seperti itu, tetapi dengan senyuman anehnya aku bahkan dibuat merinding karenanya.
"Oh ya. Bukannya kau terlalu berbahaya disini, Racel? Disini hanya ada aku dan kau. Jadi, jika pria dan wanita terjebak disini, kau tahu apa yang akan terjadi bukan?"
"Ja-jadi, kau akan melakukan hubungan terlarang denganku?" Tanpa sadar, aku mengikuti rencananya. Namun, serasa seperti di tembak tepat dijantung, jawabannya malah lebih menyakitkan dari tembakan tersebut.
"Aku tidak tertarik dengan hal begituan, dan terlebih aku tidak akan melakukannya denganmu."
"Secara tidak langsung..." aku berjalan mendekatinya. "Kau berusaha mengatakan kalau aku itu tidak menarik, benarkan?"
"Aku tidak mengatakan apa apa. Jadi, terserah kau mau menafsirkannya seperti apa. Tapi, hebat juga kau menafsirkannya sama seperti yang aku inginkan."
Sialan... kali ini, jawabannya sangatlah menyebalkan. Aku sudah muak dengannya, dan berusaha keluar dari ruangan ini. Tapi, pintu yang tadi aku masuki tidak dapat terbuka kembali. Sedangkan Ryan, melanjutkan bermain musiknya. Kali ini, ia memainkan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu. Mozart, Chopin, Beethoven, bukan. bukan mereka. Liszt? Bukan juga. Tapi apa ini? terasa tenang, tapi sedikit menyayat hati. Aku tidak tahu, tapi aku merasa kalau ini adalah lagu yang sedih.
"Ini adalah Moonlight karya Beethoven. Namun, aku mengaransemennya dengan gayaku sendiri. Kenapa? Kau cengeng sekali." Dia mengejekku. Memang, tanpa sadar air mataku keluar sendiri.
"Moonlight? Tapi, bukankah moonlight itu lagu yang kuat? Kenapa bisa menjadi sedih seperti ini?"
"Ada penjelasannya. Kau tidak perlu tahu itu." Dia menghentikan permainannya, dan menuju ke sudut ruangan. Ternyata ada pintu rahasia dan sebuah tangga yang menghubungkan ruangan ini dengan ruang dapur. Untuk akses masuk, memang bisa melalui kamarnya Ryan. Tapi, untuk keluar tidak bisa, begitulah yang dijelaskan Ryan.
Aku keluar dari ruangan itu. suara gema pianonya masih dapatku dengar sampai sekarang. Aku bahkan masih merasakan luka yang dalam dari permainannya barusan. Apa itu perasaannya?
Memang, kebanyakan musisi dapat mengungkapkan perasaannya melalui musik. Tapi, aku tidak pernah merasakan, permainan yang sampai membuatku menangis seperti tadi. Seingatku, aku bukanlah orang yang cengeng, walau sesekali aku pernah menangis.
Setibanya dikamar, aku merebahkan diri di kasur berwarna merah jambu dengan tokoh Mini Mouse yang sedang memakan kue tar. Aku menatap pusat kipas angin yang terus berputar kencang memberikan angin sejuk kepadaku. Kembali, aku teringat dengan kejadian itu. Kejadian yang menggunjang hatiku dengan kuat.
Aku terbangun saat adzan maghrib berkumandang. Tanpa sadar, aku memegang sebuah kertas di sebelah kananku. Kertas yang sedari tadi Ryan bawa kemana mana. Kertas yang menunandakan kontrak dengan orang yang bersangkutan.
Aku mengangkatnya, dan berfikir 2 kali. Apakah Ryan berbohong? Tapi, aku belum pernah mendengar kalau Ryan berbohong. Tapi, apa benar ini organisasi yang bagus? Apa benar organisasi ini bukan teroris?
Namun, karena percaya dengan Ryan, aku menandatangani kertas itu dengan segera. Namun, aku teringat satu hal. Bagaimana caranya kertas itu masuk dan berada di sebelah ku? Padahal aku tadi mengunci pintu dan saat rebahan tadi tidak ada kertas satupun di kasurku. 'Ja-jangan jangan, Ryan masuk kekamarku saat aku tidur?' Tiba tiba pikiran itu terlintas dipikiranku.
Aku terus menatap kertas itu. kertas berisi perjanjian antara aku dan Ryan. Kertas yang berisi kontrak kerja sama antara aku dan Ryan. Kertas yang berisi ikatan antara aku dan Ryan, tidak mungkin aku tidak senang. Orang yang aku idam idamkan, jika aku menandatangani ini, aku bisa bersama dia untuk waktu yang lama. Tidak mungkin ada orang yang tidak senang mengenai hal itu.
Tapi, apa benar ini merupakan yang terbaik? Aku tidak dapat melepaskan ingatanku tentang kematian Ibu. Wajahnya yang keriput karena sudah berumur, tangannya yang bermandikan darah. Dengan kondisi yang mengenaskan seperti itu, apa memang dia meminta untuk dibalaskan dendamnya?
***
Ibu..
Sebuah Cinta datang dari hati ini...
Yang membuat kita terikat satu sama lain...
Kini akankah Cinta itu putus layaknya layang layang?
Bisakah dia kembali?
Ibu...
Walau engkau telah tiada...
Walau aku tidak dapat bertemu denganmu...
Walau engkau telah mendahuluiku...
Siang dan malam tak pernah lupa ku berdoa untukmu...
Siang dan malam ku kan setia mengingatmu dalam renunganku...
Siang dan malam kan ku nantikan bertemu denganmu didalam tidurku...
Ibu... Walau kau telah tiada...
Kau kan selalu ada didalam hati kecil anakmu ini...



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Like a Rainbow in the Sky (#3)

0 komentar:

Posting Komentar