Selasa, 06 Desember 2016

Like a Rainbow in the Sky (#2)


Ketertikatan #1
Ryan pergi ke bawah karena dipanggil direktur. 'Kesempatan bagus' pikirku. Aku berlari, duduk di posnya, memeriksa komputernya, dan mencoba mencari cerita apa yang dia buat. "Nah, ketemu." Aku lalu membacanya dengan seksama, mencoba mengetahui dari mana arah cerita yang ia buat. "Dia mulai dari sini? Yah, agak aneh juga sih." Aku tahu, dan ingat jelas tentang pengalaman yang menyedihkan bagiku itu. Kehilangan Ibuku tepat didepan mataku, ditambah dalam kondisi mengenaskan. Dan aku masih ingat, alurnya sampai kasus itu ditutup. Aku ingat semua dengan jelas.
***
Senin, 14 Maret 2016...
'Uaaaah... Cih, sudah jam 4 ya?Menyebalkan' gumamku. Aku masih teringat bayang bayang kejadian kemarin. Demi tuhan aku sangat malu saat itu. aku bahkan tidak tahu, kenapa aku menampar Ryan. Padahal dia sudah menolongku, tetapi apa yang aku berikan?
Pagi itu, aku duduk dimeja dekat jendela. Menatap sesosok tubuh yang mengenkan jaket salah satu klub bola Itali, menggunakan earphone, memakai sepatu sport, yang sedang berlari lari kecil. "Tamparan ku itu sakit gak ya?" Tiba tiba aku berpikir begitu, soalnya kemarin aku tidak sempat menatap wajahnya saking malunya. Namun yang pasti, tanganku masih gemetaran sampai sekarang.
Aku lalu melipat sajadahku, dan menaruhnya kembali. Untunglah, sekarang kamarku sudah beres dari serangan seekor kecoa kemarin. Sekitar jam lima, entah kenapa aku menatap jendela. Aku lalu mendengar suara minta tolong dan segera mencari sumber suaranya dari kaca jendela.
Aku menemukannya, namun disana ada Ryan yang malah mengacuhkan ibu ibu yang entah kenapa aku seperti mengenalnya. Aku mencoba mengingat, siapa ibu itu. namun jawabannya tak kunnjung datang sampai hal yang mengejutkan terjadi.
Terdengar kegaduhan dibawah. Aku segera berlari kebawah untuk mengetahui apa yang terjadi.
"A-apa? P..pembunuhan? Ba-baiklah. Akan abang hubungi. Dimana lokasinya? Oh, baiklah. Terimakasih."
"Apa yang terjadi, Bang Hauzan?" aku turun dari tangga.
"Katanya ada masalah serius. Kamu tunggu disini saja. biar kami yang kesana." Mereka mencoba menyuruhku untuk tetap diam dirumah. Namun, karena penasaran aku memaksa ikut ketempat sumber masalahnya.
Namun, masalahnya itu lebih rumit dari yang aku bayangkan. Aku tidak tahu, kalau disana ada sebuah mayat tergeletak tanpa tangan dan busana. Aku hanya mematung melihat mayat itu. namun, tiba tiba saja tubuhku bergerak sendiri. Bergerak kearah mayat itu, dan mengamatinya lebih dekat.
Ibu...
Aku terkejut melihatnya. Aku tak menyangka kalau mayat ini adalah Ibuku. Aku tak menyangka kalau ibu ibu tadi adalah Ibuku. aku tak tahan, tangisanku pecah disana.
Mereka semua mencoba menenangkanku. Namun, yang kupikirkan saat ini adalah Ibuku sedang bermain main agar membuatku terkejut, agar membuatku jantungan. Dia dulu pernah melakukan hal ini. jadi, aku berfikir kalau dia juga melakukan hal serupa.
Aku tidak mempercayai kalau Ibuku meninggal. Aku terus melontarkan kata kata itu kepada mereka. Bahkan Bang Sulthanpun jadi sasaran pelampiasanku. Ibuku belum mati. Ibuku belum mati. Itu kalimat yang terus kuulang, sampai terdengar suara yang tak mengenakkan hati.
"Dia sudah mati, bodoh. Jangan lakukan hal yang bodoh lagi." Aku terdiam untuk beberapa saat. Tubuhku gemetaran. Aku tak tahan mendengarnya. Aku tak tahan melihatnya.
Dengan kaki yang gemetaran hebat, aku menoba berdiri.
"Apa yang kau katakan? Ibu belum mati. Ibuku belum mati..." Aku mengehntaknya. Tangan dinginnya memegang bahuku, memutar tubuhku hingga mata kami saling beradu pandang.
"Kau... Apa kau bodoh? Apa yang kau harapkan? Apa yang kau pikirkan? Apa yang membuatmu tidak percaya? Lihat kenyataan. Lihat apa yang ada didepanmu. Apa kau bodoh? Apa kau buta? Percayalah pada kenyataan" dia melepas tangannya. Aku sudah tak tahan lagi. Rasanya saat itu bisa saja aku meledak atau pingsan tiba tiba. Tubuhku memanas. Kedua tanganku rasanya ingin membunuh pelakunya segera.
"Hentikan rengekkanmu itu, dasar perem-" Aku langsung menamparnya. Aku tak tahan mendengar kalimat kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Aku sudah muak dengannya.
"Kau... Kau yang membunuhnya, bukan?" Aku mendekatinya. Dia berdiri, menatapku dengan sinis.
"Apa yang kau katakan? Kalau aku yang membunuhnya, aku pasti sudah kabur duluan, atau tidak memanggil kalian disini."
"Kau... kau pasti yang membunuhnya. Kau yang membunuh Ibuku bukan? benarkan? Jangan mencoba... Diam kau. Jangan mengelak lagi... Kau yang membunuhnya bukan?" Aku pasrah. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku ingin menamparnya lagi. Aku ingin memukulnya lagi. Tapi, kenapa aku malah bersandar padanya?
Kami terus begitu untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, tubuh kaku ku terhuyung kedepan dan seketika semuanya hitam, gelap, dan sunyi.
***
Keterikatan #2

Pukul 10.00 WIB...
Aku terbangun diatas sebuah ranjang yang tak kukenal. Aku mencoba berdiri, namun tubuhku tumbang terkulai lemas. Energi yang sedari kemarin aku kumpulkan rasanya lenyap ditelan kejadian tadi. Aku tak dapat bergerak, aku tak dapat berkata kata. Aku hanya mampu menggerakkan kepalaku, kekanan dan kekiri.
Ryan duduk di sebuah kursi hitam pendek didekat pintu. Kamar ini terasa rapi, lemari yang penuh dengan buku pengetahuan, serta aroma wangi dari parfum pengharum ruangan yang natural sangat elok untuk pernafasan. Cat hijau memenuhi dinding ruangan, meja belajar dan komputer yang screen server nya terus bergerak gerak, berputar putar. Kamar ini terasa sangat nyaman, dan berbanding terbalik dengan kamarku.
Setelah istirahat sekitar 30 menitan, aku mencoba bangkit kembali. Kali ini berhasil, walaupun hanya sebatas bersandar di kepala kasur. Ryan terbangun karena suara benturan yang aku hasilkan. Dia lalu menatapku.
"Sudah sadar?" Suaranya sedikit parau. Aku tidak tahu kenapa, tapi suaranya itu terdengar parau, dan bergelombang, berbeda dengan suaranya yang biasa bersih dan datar.
"Apa maumu membawaku kesini? apa kau memanfaatkan keadaan?" Aku menaikkan selimut segera.
"Walaupun aku ingin, aku tidak akan melakukannya denganmu. Jadi, apa kau sudah tenang? tunggu sebentar." Dia berdiri, lalu berjalan kearah meja belajarnya, dan melemparkan segelas minuman mineral kemasan kearahku.
"itu artinya kau mengatakan kalau aku tidak menarik? Sialan... Ya, aku sudah lumayan tenang. tapi, tetap saja kenyataan itu aku tak sanggup menerimanya." Kataku sambil menancapkkan pipet. Aku meneguk beberapa kali karena kehausan dari kepanikan tadi.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Aku? Aku akan kerumah sakit, dan menuntutmu atas perbuatan yang kau lakukan kepada Ibuku." Aku masih tak dapat melupakannya. Dan entah kenapa, aku malah menuduh Ryan, orang yang mengabari kami masalah jasad Ibuku itu. tapi, bagaimana kalau itu hanyalah permainan psikologisnya? Bagaimana kalau itu hanya sebuah jebakan agar dia tidak dicurigai? Bagaimanapun, aku sangat percaya dengan intuisiku saat ini, yang mengatakan kalau Ryan bersalah.
"Kau masih mencurigaiku. Yah, aku memang tidak mempunyai bukti, aku memang tidak mempunyai orang yang dapat menguatkan alibiku. Tapi, aku belum pernah berbohong sekalipun."
"Lalu, kenapa ketika Ibuku berlari, berteriak meminta pertolongan, kau tidak menolongnya? Kenapa kau tidak lakukan hal itu? Jika... Jika saja saat itu kau menolongnya, dia tidak akan mati seperti ini. KENAPA KAU TIDAK MENOLONGNYA?" aku berteriak keras sekali. Dia hanya tertunduk, menatap minumannya ditangannya.
"begitu ya. Dari nadanya, kau pasti sangat ingin balas dendam. Bagaimana? Jika aku benar, maka buatlah duet denganku. Jika kau mau melakukannya, akan aku kabulkan seluruh permintaanmu. Dan yang pasti, akan ku perlihatkan wajah si pelaku brengsek yang membunuh ibumu itu. Bagaimana, kau setuju?" Aku diam sebentar. Mencoba mencermati setiap kata katanya. Aku tidak ingin terjebak didalam kata kata manis seorang pria.
Dia berdiri, mengeluarkan sebuah surat pernyataan mengenai kerja sama denganku. Dia menyodorkan pena dan menempelkan materai 6000 diatas tandanganku. Aku mengisi dataku disana, mulai dari nama, alamat, pekerjaan, dan sebuah kalimat yang menegaskan kalau aku bersedia bekerja sama dengannya.
Dengan ragu, dan penuh tanda tanya, aku menatap surat itu sekali lagi. 'The Blacket' tulisan diatas surat itu. aku tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya. apakah ini organisasi teroris? Apakah ini organisasi kejahatan? Aku tidak ingin terkait, terhubung dengan organisasi seperti itu. aku mengembalikan kertas itu kepadanya sebelum aku tanda tangani. Dia menatapku dengan penuh tanda tanya.
Dia menjelaskan tentang organisasi itu. dia mengatakan bahwa The Blacket adalah singkatan dari The Black Jacket, yang artinya jaket hitam. Mereka adalah organisasi pembantu polisi dalam menyelidiki sebuah kasus yang rumit. Dia mengatakan kalau sudah banyak kasus aneh yang mereka pecahkan, kasus diluar akal sehat yang mereka pecahkan.
Tentu saja, aku menolak mempercayainya mentah mentah. Malahan, aku tertawa terbahak bahak mendengar pernyataan barusan. Penyelidikan? Pembantu polisi? Kasus kasus rumit? Anak SMA gini melakukannya? Terbayang gak, anak SMA sekarang, yang bisanya hanya merusuh, pacaran, tawuran, melakukan hal aneh seperti ini? aku tidak akan percaya walaupun disuguhi uang sekoper didepanku, yah mungkin aku akan mengambil uangnya dan berpura pura percaya jika itu terjadi.
Dia melanjutkan penjelasannya dengan wajah kesal. Dia menggerutu, namun aku tidak dapat mendengarnya. Organisasinya ini, kalau sedang beroperasi mereka menggunakan jaket hitam khusus, atau menggunakan tuxedo. Namun, untuk orang dibawah umur 23 tahun, mereka menggunakan jaket hitam sedangkan diatas umur 23 tahun, menggunakan tuxedo.
"Lalu untuk ketuanya, dia menggunakan..."
"Seragam Tuxedo, memegang cerutu ditangan kirinya, menggunakan kursi roda dan selalu menutup matanya menggunakan topi fedora yang selalu ia gunakan dan wajahnya masih dirahasiakan baik didalam, maupun diluar organisasi." Aku mendesah pelan setelah mengatakannya.
"Bagaimana kau tahu?" Wajahnya sedikit pucat, matanya membelalak tak percaya akan apa yang barusan aku katakan.
"Eh, jadi benar? Padahal aku hanya mengatakan deskripsi bos mafia di sebuah film layar lebar. Jadi, organisasi kalian itu adalah mafia ya? Aku tetap tidak akan menyetujuinya."
"Kalau begitu, dendam ibumu tidak akan tersampaikan. Apa kau mau, menanggung dendam ibumu yang bisa jadi menghantuimu setiap saat?" dia kembali menyodorkan surat pernyataan itu.
"Ibuku bukanlah orang yang pendendam. Dia pasti yakin, inilah takdir yang telah diputuskan oleh Yang Maha Kuasa. Rabb Allah pasti akan memberikan cobaan yang tidak melebihi kemampuan hambanya. Aku pasti bisa melewati ini. jadi, aku tidak membutuhkanmu, dan tidak perlu ikut organisasi mafiamu itu." aku turun dari kasur, dan berjalan teratih atih ke pintu. "Jangan ganggu aku lagi." Kataku sambil menutup pintunya.
Aku pergi kekamarku. Mengambil jilbabku, dan turun ketangga. Lalu pergi ke rumah sakit yang sebelumnya sudah dikasih tahu oleh Ryan tadi.
Aku tiba disana berpas pasan dengan adzan zuhur. Berjalan jalan sebentar, mencari masjid terdekat dan menunaikan ibadah wajib yang satu ini. Shalat adalah suatu ibadah wajib yang sangat tidak boleh untuk ditinggalkan. Guru MTsN ku pernah mengatakan kalau shalat adalah amalan yang pertama di hisab saat di yaumil mahsyar nanti. Shalat adalah kunci utamanya.
Orang orang sering melalaikan ibadah yang menurutku cukup ringan, dibanding dengan ibadah wajib lainnya. Mereka beranggapan, bahwa waktu shalat itu banyak. Mereka mengatakan kalau waktu shalat subuh itu antara subuh sampai zuhur. Kalau shalat zuhur itu antara zuhur sampai ashar. Dan lain lainnya. Tapi, ketahuilah bahwa hal itu merupakan salah besar. Allah menjelaskan dalam firmannya yang berarti :
'Celakalah bagi orang orang yang shalat. Yaitu orang orang yang lalai dalam shalatnya.'
Dengan jelas, Allah aza wa Jalla mengatakan bahwa 'Celakalah bagi orang orang yang shalat.' Dan 'Yaitu orang orang yang lalai dalam shalatnya'. Mereka tidak menyadari, jika mereka memiliki waktu untuk bermain main, waktu untuk melakukan hal yang tidak ada gunanya, dan mereka malah mendahului hal itu dari pada shalat. Walaupun mereka shalat, tapi Allah tetap mengatakan bahwa mereka akan celaka.
Guruku juga mengatakan bahwa sikap manusia, dilihat dari cara shalatnya. Jika sikapnya baik, sopan, santun, ramah, dan segala sifat baik tertera didalam dirinya, maka shalatnya sudah benar, dan ibadah ibadah lainnyapun akan segera menyusul. Namun, jika dia shalat, namun sikapnya itu tidak mencerminkan perilaku orang orang baik, maka hal itu perlu dipertanyakan.
Kemana semua amalannya?
Apakah Ryan juga termasuk orang yang lalai?
***



Ketertarikan #3
            Aku mengambil karcis, dan memarkirkan motorku ditempatnya. Ada 4 baris motor, dan untungnya ada ibu ibu yang mau keluar. Dengan cepat, aku mengambil tempat itu karena sudah ada 5-7 motor yang mengantri mencari tempat parkir, dibelakangku.
Aku berjalan, memasuki pintu otomatis, mencari resepsionisnya dan menanyakannya dimana jenazah Ibu di letakkan. Lalu seorang dokter wanita muda, berparas lumayan lah untuk anak muda sekarang, dengan ramah menunjukkan jalannya kepadaku. Aku mengikutinya dari belakang, sambil sedikit bertanya tanya dalam diriku.
"Maaf... Ini jenazah ibumu. Apa saya perlu mengatakan penyebab kematiannya?" Dokter itu pergi kearah loker loker dan mengeluarkan sebuah map tulang berwarna kuning.
"Tidak perlu. Biar aku yang jelaskan kematiannya." Terdengar suara dari belakangku. Aku meliriknya. Kenapa dia ada disini?
"Begini. Penyebab kematiannya adalah tembakan pistol dari jarak dekat kearah kepala. Lihatlah disekitar sini." Dia menarik tanganku kearah kepala Ibuku. dokter itu juga ikut bergerak sambil mengecek isi yang ada didalam map itu.
"Lihatlah, kau melihatnya bukan?" lanjutnya
"Terbakar?" Tiba tiba jantungku berdegub kencang dan pertanyaan pertamapun muncul di benakku. Kenapa kening Ibuku terbakar?
"Itu adalah percikan api yang keluar dari senjata apinya. Aku tidak tahu pasti, tapi menurutku ini adalah revolver karena ketika aku melihatnya tadi, masih tercium bau bubuk musiu yang kuat di pakaiannya. Kalau untuk handgun tidak akan menghasilkan aroma yang kuat seperti itu. Dan juga, aku menduga kalau kematian ibumu ini ada kaitannya dengan pembunuhan berantai itu."
"Dokter, apakah dia benar?" aku menoleh kearah Bu dokter yang terdiam, dan sedikit terkejut.
"Y-ya. Dia benar semuanya. Polisi juga menduga hal seperti itu. aku merasa dia mengulang apa yang polisi tadi katakan. Tapi, masih ada sedikit yang kurang. Ada beberapa hal yang belum dia katakan, sedangkan polisi tadi sudah mengatakannya."
"Begitu ya? Dia juga pasti mengatakan ciri ciri korbannya. Aku berani bertaruh, korbannya bertubuh tinggi, lebih tinggi dari 175 cm. hal itu dapat diketahui dari sudut datangnya peluru. Seorang pria dengan rambut hitam top man, pekerja kantoran, perokok, dan bisu. Menurutku seperti itu orangnya." Dia lalu menarik kain yang menutup tubuh ibuku hingga seluruh tubuhnya tertutup. Mungkin, dia tidak kuat melihat mayat.
"Darimana kau tahu?" Bu dokter itu terkejut, dan tubuhnya terhempas ke lemari yang berisi obat obatan.
"Kalau masalah rambut itu, aku sudah memeriksanya di seluruh pakaian yang ibu itu kenakan. Kalau masalah yang lain itu, hanya intuisi ku saja. jangan dipikirkan." Dia berhenti, tersenyum sebentar, dan duduk tepat disamping jenazah Ibuku.
"Nah sekarang, apakah kau mau bergabung dan membentuk partner denganku, Racel?" Aku sedikit terkejut. Setelah 2 tahun bertemu dengannya, ini pertama kalinya dia menyebut namaku, selain disekolah – karena kerja kelompok – dengan senyuman semanis itu. jantungku kembali berdegup kencang. Aku sangat gugup. Tak tahu, apa yang harus aku katakan.
"T-tunggu sebentar. Aku tidak tahu apa maksudmu sama sekali. Bisa saja kalau analisimu itu sudah kau minta dari pak polisi itu. aku tidak peraya padamu." Aku mencoba mengelak. Tapi, dalam hatiku aku yakin kalau itu adalah hasil analisis dia sendiri . dia tidak seperti mengingat. Dia mengatakannya dengan lancar dan senyuman yang bahkan aku baru pertama kali melihatnya.
"Hahaha... Ternyata kau pandai bersilat lidah juga ya. Aku mengira, kalau kau itu adalah orang yang taat agama. Tapi, kau ternyata bisa suuzon juga kepada orang. Menyebalkan. Ya sudah, aku hanya perlu mencari orang yang cocok denganku saja. Nikmati saja waktu berdukamu itu. aku tidak peduli." Dia lalu melambaikan tangannya, dan pergi keluar dari rumah sakit itu.
Sedikit sakit rasanya, karena di nasehatin oleh orang seperti dia. Tapi, yang lebih sakit itu adalah dia benar. Aku tidak tahu, tapi rasanya yang didalam tubuhku terasa panas semua. Memang, Allah tidak menyukai orang yang suuzon kepada orang lain. Hal itu dapat memecahkan ukhuwah kita. Dan yang parahnya, aku tidak tahu harus berbuat apa. Ibuku mati didepan mataku, dan apa aku hanya bisa meratapinya saja?
Tidak. Aku tidak bisa diam saja...
"Apa yang dia katakan tentang rambut pelaku itu benar. Kami juga sudah mengeceknya dan memang benar seperti itu. Tapi anehnya, DNA nya tidak cocok dengan DNA yang ada seluruh rumah sakit di Riau ini. kami sudah mengirim datanya ke seluruh kota dan kabupaten di Riau, tetapi hasilnya nihil. Sekarang, kami sednag mengirim datanya ke pusat, agar disebarkan di seluruh Indonesia. Namun, polisi hanya mengatakan hal itu saja. dia tidak mengatakan kalau pelakunya adalah seorang pekerja kantoran, perokok, apalagi bisu. Temanmu itu terlalu banyak nonton film kali ya?"
Aku hanya terdiam mendengar kata katanya. Aku pulang dengan memendam rasa kecewa, dan sedikit menyesal. Pertanyaan yang samapun terus terngiang ngiang ditelingaku. 'Apakah aku harus membalasnya?'
Memang, banyak yang mengatakan kalau nyawa harus dibalas nyawa. Tapi, bolehkah manusia memendam rasa dendam? Bolehkah manusia melampiaskan rasa amarahnya? Bolehkah manusia melampiaskan dendamnya?
Aku takut memikirkannya. Namun, kata kata Ryan tadi malah muncul di telingaku. 'Apakah kau mau bergabung dan membentuk partner denganku, Racel?'
***

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Like a Rainbow in the Sky (#2)

0 komentar:

Posting Komentar