Selasa, 06 Desember 2016

Like a Rainbow in the Sky (#1)

Kematian #1
Minggu, 13 Maret 2016...
Hari hari liburan yang dulunya kunanti nantikan sebentar lagi selesai. Tidak, liburan tanpa kenangan, tanpa kesenangan, tanpa petualangan, bukanlah disebut dengan liburan. Hari hari yang membosankan dirumah, menonton TV, bermain PS, dan semua kegiatan yang dilakukan didalam ruangan berukuran 6 X 6 meter.
Ya, Kamarku menjadi ruangan tempat aku bernaung. Hampir seluruh kegiatan liburanku kuhabiskan disana. sebuah kasur berukuran pas badan, komputer, meja belajar, playstation, dan kipas memenuhi ruangan itu. Lemari dengan tinggi 2 meter berisikan buku pelajaran dan novel novel memenuhi lemari kecil yang terletak disudut kiri ruangan.
Aku tidak mengikuti ekskul apapun di SMA ku. Pasalnya, aku membenci keramaian, aku membenci organisasi, aku membenci sosialisasi. Ya, sama dengan novel kesukaanku, orang menyebutku "Anti Sosial" dan aku bangga dengan gelar itu.
Anti sosial, membuatku tidak perlu memikirkan orang lain. Yang harus aku pikirkan hanyalah diriku sendiri, dan tidak mau tahu tentang orang lain. Oleh sebab itu, aku membenci semua aktifitas berkelompok, mulai dari olah raga kerja sama tim ataupun belajar kelompok. Aku tidak menyukainya, aku membencinya.
Mereka boleh menyebutku apapun. Egois, rakus, apalagi? Terserah, aku tidak masalah dengan hal itu. bahkan ada yang menyebutku memuakkan, menyebalkan, monster? Ya ada yang mengatakan kalau aku itu adalah monster. Mungkin dia terlalu banyak menonton kartun kartun yang gak bermutu seperti animasi animasi yang banyak menyebarkan virusnya kedalam tubuh anak muda sekarang.
Di rumah ini, hanya ada enam penghuni. Pemilik rumah, seorang pria pekerja kantoran, 2 orang mahasiswa, seorang penyendiri, dan seorang siswi SMA yang satu sekolah denganku. kamar nomor 4 dan nomor 5 berada dilantai dua. Sedangkan kamar nomor satu, dekat dengan kamar pemilik rumah. Kamar no 2 dan 3 dekat dengan ruang tamu. Kamar nomor 4 yang sekarang aku tempati ini adalah kamar yang paling besar dirumah ini. Itu sebabnya aku dapat memasukkan lemari dan komputer kedalamnya.
Saat ini, aku sedang fokus untuk melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu pasti apa yang akan aku lakukan. Aku ingin, di SMA ini, ada kenangan yang tertinggal. Pada SMP, kenangan yang aku buat adalah terjatuh dari pagar sekolah, memesan makanan yang dikasih malah minuman, dan semua hal meleset yang terjadi. Mengingatnya saja, ah aku tidak mau membahasnya lagi.
Aku pergi ke meja komputer, membuka MS Word, dan menuliskan pengalaman membosankan dalam hidupku. Namun, orang orang banyak mengatakan kalau pengalaman membosankan itu dapat menarik jika dituangkan. Aku tidak tahu maksudnya, namun menurutku dituangkan disini adalah diceritakan, dituliskan, sehingga para pembaca dapat membaca pengalamanku yang aku sendiri tidak tahu apakah menarik atau tidak. Namun, yang aku rasakan hanyalah hidup yang membosankan, dengan penghuni menyebalkan, untuk saat ini.
***
TRAANG... terdengar suara piring pecah dibarengi dengan suara teriakan perempuan. Kejadiannya tepat sekali ketika aku membuka pintu kamar untuk mencari udara segar di hari minggu ini. Aku melirik kamar no 5, dan mengalihkan pandanganku ke anak tangga. 2 mahasiswa penghuni kamar 2 dan 3 berlari keatas untuk melihat apa yang terjadi. Karena rasa tak mau kalah, Ibu pemilik rumah ini juga berlari ke atas dengan piyamanya seolah olah aku melihat adu lari antara 3 orang dewasa itu.
BRUUKK... Kali ini, bukan piring yang pecah. Ibu itu tersandung anak tangga yang terakhir dan seketika duniapun bergoncang. Para pemuda yang tadinya berlari kencang kini terpaksa menghentikan larinya. Semua mata tertuju pada satu titik. Ibu pemilik yang biasa kami panggil Ibu Lili menatap kami dengan tatapan terkejut. Pipinya mulai memerah, dan diapun berlari kembali keruangannya.
BRUUKK... Terjadi lagi. Kali ini, Ibu Lili terjatuh dan terguling dari anak tangga terakhir. Badannya yang mirip bola sangat cocok saat dia menggelinding. Pemuda pemuda itu yang biasa kami panggil Bang Sulthan dan Bang Hauzan berlari mencoba menolong Bu Lili. Mereka memang sering membantu Bu Lili sehingga mereka selalu diberi diskon olehnya.
Bang Hauzan lompat dari tangga seolah sedang melakukan parkour sedangkan Bang Sulthan meluncur lewat pegangan tangga. Mereka selalu bersaing dalam hal apapun. Mulai dari pelajaran, hingga mencari perhatian Bu Lilipun mereka lombakan. Entah selera para pemuda sekarang itu ibu ibu aku pun gak tahu dan gak mau tahu tentang itu.
Sedangkan mereka asyik menolong Bu Lili, aku pergi kearah kamar no 5, sumber masalah ini. Tok tok tok... Aku mengetuk pintu itu sekali. Namun, tidak ada jawaban. Tok tok tok... Untuk kedua kalinya, tidak juga ada jawaban. Akupun sedikit penasaran tentang hal itu. Apakah ada kasus yang dapat aku selesaikan saat ini? Akhirnya kasus itupun datang. Pikirku...
Sejak aku membaca novel Sherlock Holmes, aku selalu menganggap dirkiku ini adalah Jelmaan Sherlock Holmes, di abad 21. Aku selalu berkhayal, apakah ada kasus yang dapat aku pecahkan ataupun tidak. Oleh karenanya, aku sudah sama seperti anak anak yang lain, sama seperti Otaku yang lain, namun tidak dalam budaya jepang. Melainkan tergila gila karena Sherlock Holmes karya Sir Arthur ini.
Pintupun terpaksa kubuka. DUNIA SUDAH KIAMAT? Kata kata itu seketika kuucapkan melihat kondisi kamarnya. Tak terbayangkan olehku, ternyata kamar seorang siswi SMA itu lebih parah dari kamarku.
Matapun aku gerak gerikkan, menjelajahi seluruh ruangan. Mataku menangkap sinyal kuat, ditempat lemari pakaian yang terjatuh. Seluruh pakaiannya keluar, berserakan dimana mana. Baik pakaian luar, maupun pakaian dalam tersebar bahkan ada yang sampai ke atas kasur dan meja belajar. Entah bagaimana kehidupannya, aku sudah tidak peduli.
Aku segera menutup pintunya, namun terdengar suara yang aku rasa dia berbicara padaku.
"Jangan ditutup." katanya. Aku tidak jadi menutupnya, dan membukanya mencari sumber suara itu.
"Di dalam sini." Ternyata suaranya berasal dari bawah lemari yang terjatuh. aku mengangkat lemarinya, dan melihat sesuatu yang aneh disana.
"Apa yang kau lakukan dengan pakaian yang seperempat tertutup itu?" Aku melihat wajahnya, karena kancing yang ia gunakan terbuka semua.
"A-apa yang kau lihat, Hentai."
"Hentai? Bahasa planet mana tuh?" aku langsung melepaskan tanganku dari lemari itu dan Brukk... dia terperangkap didalam lemari itu sekali lagi.
"Apa yang kau lakukan. Cepat keluarkan aku!" Aku benci dengan orang yang meminta secara tidak baik seperti ini. untuk orang yang tidak baik, maka aku hanya harus bersikap tidak baik pula.
"Memohonlah kepadaku. Baru akan aku bantu, mungkin."
"Kumohon, Ryan, angkatkan lemari pakaian menyebalkan ini. Kumohon." Setelah mendengarnya, bukannya langsung mengangkatnya, aku malah tertawa menyeringa mendengarnya.
Hup. Aku mengangkat lemarinya dan diapun keluar dengan selamat. Namun, bukannya mendapat rasa terimakasih, aku malah diberikan sebuah tamparan hebat dipipi kiriku. Darah keluar dari mulutku sedikit.
"Kenapa kau masih disini, Hentai? Pergi sekarang, atau aku panggil Bu Lili. Pergi cepat"
"Apa yang kau lakukan? Inikah balasannya? Setelah aku mengangkat itu, kau tidak bisa mengatakan 2 kata yang sangat mudah itu? yah, terserah. Aku tidak berharap dan tidak peduli denganmu." Aku berjalan keluar. Aku berhenti sejenak di daun pintu, membalikkan kepalaku. "itu sebabnya aku membenci perempuan." Aku menutup pintu pink bertuliskan 'Miracle' itu dan menuju kebawah.
Kematian #2
Senin, 14 Maret 2016...
Aku berjalan jalan sebentar. Mencari udara segar disubuh hari, ternyata cukup menyenangkan. Sudah hampir 1 minggu sejak libur aku berada dikamar terus, dengan gorden yang tak pernah kusingkap dan lampu kamar yang tak pernah menyala. Satu satunya sumber cahaya adalah komputer yang terus menyala selama 24 jam non stop setiap harinya. Walaupun begitu, kamarku tidak bisa disebut kapal pecah karena semua barang barang aku letak pada tempatnya. Tidak seperti makhluk aneh yang berada disamping kamarku itu. kamarnya seperti kapal pecah, tidak, bahkan lebih mirip tempat bekas terjadinya perang dunia kedua.
Aku berjalan jalan, mengitari gang rumah aneh ini yang membuatku sakit kepala terus. Ibu pemilik yang gayanya minta ampun, dua mahasiswa bodoh yang selalu mencari perhatian perempuan, ditambah makhluk itu, ah aku tidak sanggup membayangkannya.
Beberpa langkah dari depan pagarterdengar teriakan minta tolong. Seorang wanita paruh baya sedang mengejar seorang pria yang memakai pakaian hitam semua serta memakai penutup muka seperti penjahat penjahat kebanyakan yang ada di film. Penjahat itu lewat didepanku, namun aku tidak bereaksi apa apa. Aku hanya menyaksikan mereka yang kejar kejaran seperti anak kecil itu.
Namun, entah kenapa aku tidak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Pria berbaju hitam itu seakan menghipnotisku agar pergi ketempatnya. Aku terpaku beberapa detik disana. mereka belok kekanan, lalu ke kiri, tempat yang sunyi dan sepi, tempat yang sangat sempurna untuk kabur dari wanita itu.
'Yah, aku tidak perlu ikut campur dalam urusan mereka', gumamku. Aku tidak ingin melibatkan diriku dalam hal yang merepotkan begitu.
Aku lalu melanjutkan perjalanan yang seharusnya sedikit menyegarkan, sekarang aku malah bad mood dibuatnya. Aku tidak tahu, tapi aku merasa ada sesuatu yang menjanggal. Aku merasa, ada sesuatu yang buruk yang akan menimpaku. Aku memutuskan untuk pulang, setelah berjalan sekitar 30 menit.
Aku memutuskan untuk pergi menenangkan diri sebentar. Ya, tempat yang aku sebutkan tadi adalah tempat yang paling menenangkan diantara semua tempat di Pekanbaru ini. Namun, bukannya menyenangkan, malah menjadi menakutkan.
Mayat...
Sesosok tubuh tanpa tangan tergeletak disana. Bau amis dari darah segar yang menyengat, serta kondisi yang mengerikan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Wanita paruh baya tadi, tak kusangka aku menemukannya dalam kondisi seperti itu. Karena panik, aku mencari cari orang disana, walaupun aku tahu kalau disana tidak ada orang sedikitpun.
Lalu, aku menelepon seseorang dari tempatku agar memanggil ambulan dan polisi ke tempatku sekarang. Miracle, dan dua mahasiswa lainnya datang.
"Apa yang terjadi, Ryan?" Bang Hauzan menatapku dengan nafas terengah engah. Aku melirik Miracle dan Bang Sulthan, namun aku tidak ingin mengatakannya.
"Begini, bang. Miracle, kau tidak boleh mendengarnya." Lalu aku membisikkan keadaannya kepada kedua pemuda itu. Miracle menatap reaksi terkejut dari mereka dengan wajah penuh tanda tanya.
"Benarkah? K-kami sudah memanggil ambulan dan polisi. Tapi, apa kau yakin, kalau dia itu masih hidup?"
"Tidak. Dengan darah yang keluar sebanyak itu, aku tidak yakin kalau dia masih hidup. Hei, Miracle, apa yang kau lakukan?" Dia berjalan kearah onggokan terpal hitam tempat tubuh itu aku tutupi.
"I-itu... Itu adalah... Ibu?" Aku terkejut mendengarnya. Dia berlari dan membuka terpal hitam itu, matanya seketika menatap tak percaya apa yang telah ia temukan. "Ibu? Ini bohongkan? Ibu? Ibu? Bangun Bu... Bu, bangun Bu... Bangun....!" Aku mengurungkan niatku untuk mencegahnya. Dia menatap jasad ibunya, air mata mengalir dari matanya dan terjatuh tepat diwajah ibunya. Daratan yang sunyi itupun berubah karena tangisannya. Kedua mahasiswa itu menghampirinya, mencoba menenangkannya. Namun, Rahel mengusir mereka.
"Dia belum mati, pergi kalian Mahasiswa bodoh. Dia hanya sedang menjahiliku. Dia hanya sedang tidur, pura pura mati biar aku terkejut. Pergi kalian, tinggalkan kami. Apa yang kalian lakukan? Jangan sentuh aku. Ibu... Ibu belum mati kan? Ibu masih hidup, benar kan?" Bang Sulthan yang ingin menenangkannya, malah dibentak dan wajahnya kena hantaman tangan kirinya hingga hidungnya berdarah.
Kami bertiga terdiam, terpaku dalam suasana aneh ini. aku tidak tahu harus menyikapinya bagaimana, namun suasana ini terasa asing sekali bagiku. Apa ini? aku tidak tahu. Aku ingin menenangkannya, namun kalimat yang melintas dipikiranku adalah "Aku tidak akan melibatkan diriku."
"Dia sudah mati, bodoh." Aku tegak dibelakangnya. "Jangan lakukan hal yang bodoh lagi."
"Apa yang kau katakan? Ibu belum mati. Ibuku belum mati..."
"Kau... Apa kau bodoh?" Aku memegang tangannya, dan untuk pertama kalinya, aku menatap dengan jelas, wajah perempuan. "Apa yang kau harapkan? Apa yang kau pikirkan? Apa yang membuatmu tidak percaya? Lihat kenyataan. Lihat apa yang ada didepanmu. Apa kau bodoh? Apa kau buta? Percayalah pada kenyataan" Aku melepasan genggamanku. Dia hanya tertunduk. "Hentikan rengekkanmu itu, dasar perem-" Sekali lagi, aku merasakan tamparannya. Keras sekali, aku bahkan terjatuh dibuatnya.
"Kau... Kau yang membunuhnya, bukan?"
"Apa yang kau katakan? Kalau aku yang membunuhnya, aku pasti sudah kabur duluan, atau tidak memanggil kalian disini."
"Kau... kau pasti yang membunuhnya. Kau yang membunuh Ibuku bukan? benarkan? Jangan mencoba... Diam kau. Jangan mengelak lagi... Kau yang membunuhnya bukan?" Aku tak tahan mendengarnya. Nada suara itu, aku membencinya. Aku tidak ingin mendengarnya. Rasanya sakit jika aku mendengarnya.
Dia tertunduk, dan menyandarkan kepalanya kedadaku. Kau yang membunuhnya, bukan? dia terus mengatakan kalimat itu.
***
Sirinepun akhirnya terdengar. Kami tetap dalam posisi kami masing masing, dengan dia yang masih terus mengatakan kalimat meneybalkan itu, dan dua pemuda yang tetap terdiam mematung yang sedang tak percaya melihat keadaannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah suasana yang sangat asing, aku yakin pernah mengalami hal seperti ini, namun kenapa perasaan ini terasa asing?
3 orang petugas datang, mengangkut mayatnya ke dalam ambulan. Kami berdua tetap mematung. Wajah linglung terus aku tunjukkan. Kalimat yang sama terus dia lontarkan.

Tubuhnya mendorongku kebelakang. Kamipun tumbang seperti pohon yang baru ditebang. Tiba tiba pandanganku kabur, dan semuanya gelap gulita. Tak terlihat satupun bayangan disana. tak terdengar satupun suara disana. tempat sunyi, gelap, melebihi lubang sumur yang dalam, melebihi goa jepang yang panjang.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Like a Rainbow in the Sky (#1)

0 komentar:

Posting Komentar