Kematian #1
Minggu, 13
Maret 2016...
Hari hari
liburan yang dulunya kunanti nantikan sebentar lagi selesai. Tidak, liburan
tanpa kenangan, tanpa kesenangan, tanpa petualangan, bukanlah disebut dengan
liburan. Hari hari yang membosankan dirumah, menonton TV, bermain PS, dan semua
kegiatan yang dilakukan didalam ruangan berukuran 6 X 6 meter.
Ya, Kamarku
menjadi ruangan tempat aku bernaung. Hampir seluruh kegiatan liburanku
kuhabiskan disana. sebuah kasur berukuran pas badan, komputer, meja belajar,
playstation, dan kipas memenuhi ruangan itu. Lemari dengan tinggi 2 meter
berisikan buku pelajaran dan novel novel memenuhi lemari kecil yang terletak
disudut kiri ruangan.
Aku tidak
mengikuti ekskul apapun di SMA ku. Pasalnya, aku membenci keramaian, aku
membenci organisasi, aku membenci sosialisasi. Ya, sama dengan novel
kesukaanku, orang menyebutku "Anti Sosial" dan aku bangga dengan
gelar itu.
Anti sosial,
membuatku tidak perlu memikirkan orang lain. Yang harus aku pikirkan hanyalah
diriku sendiri, dan tidak mau tahu tentang orang lain. Oleh sebab itu, aku
membenci semua aktifitas berkelompok, mulai dari olah raga kerja sama tim
ataupun belajar kelompok. Aku tidak menyukainya, aku membencinya.
Mereka boleh
menyebutku apapun. Egois, rakus, apalagi? Terserah, aku tidak masalah dengan
hal itu. bahkan ada yang menyebutku memuakkan, menyebalkan, monster? Ya ada
yang mengatakan kalau aku itu adalah monster. Mungkin dia terlalu banyak
menonton kartun kartun yang gak bermutu seperti animasi animasi yang banyak
menyebarkan virusnya kedalam tubuh anak muda sekarang.
Di rumah ini,
hanya ada enam penghuni. Pemilik rumah, seorang pria pekerja kantoran, 2 orang
mahasiswa, seorang penyendiri, dan seorang siswi SMA yang satu sekolah
denganku. kamar nomor 4 dan nomor 5 berada dilantai dua. Sedangkan kamar nomor
satu, dekat dengan kamar pemilik rumah. Kamar no 2 dan 3 dekat dengan ruang
tamu. Kamar nomor 4 yang sekarang aku tempati ini adalah kamar yang paling
besar dirumah ini. Itu sebabnya aku dapat memasukkan lemari dan komputer
kedalamnya.
Saat ini, aku
sedang fokus untuk melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu pasti apa yang
akan aku lakukan. Aku ingin, di SMA ini, ada kenangan yang tertinggal. Pada
SMP, kenangan yang aku buat adalah terjatuh dari pagar sekolah, memesan makanan
yang dikasih malah minuman, dan semua hal meleset yang terjadi. Mengingatnya
saja, ah aku tidak mau membahasnya lagi.
Aku pergi ke
meja komputer, membuka MS Word, dan menuliskan pengalaman membosankan dalam
hidupku. Namun, orang orang banyak mengatakan kalau pengalaman membosankan itu
dapat menarik jika dituangkan. Aku tidak tahu maksudnya, namun menurutku
dituangkan disini adalah diceritakan, dituliskan, sehingga para pembaca dapat
membaca pengalamanku yang aku sendiri tidak tahu apakah menarik atau tidak.
Namun, yang aku rasakan hanyalah hidup yang membosankan, dengan penghuni
menyebalkan, untuk saat ini.
***
TRAANG...
terdengar suara piring pecah dibarengi dengan suara teriakan perempuan.
Kejadiannya tepat sekali ketika aku membuka pintu kamar untuk mencari udara
segar di hari minggu ini. Aku melirik kamar no 5, dan mengalihkan pandanganku
ke anak tangga. 2 mahasiswa penghuni kamar 2 dan 3 berlari keatas untuk melihat
apa yang terjadi. Karena rasa tak mau kalah, Ibu pemilik rumah ini juga berlari
ke atas dengan piyamanya seolah olah aku melihat adu lari antara 3 orang dewasa
itu.
BRUUKK... Kali
ini, bukan piring yang pecah. Ibu itu tersandung anak tangga yang terakhir dan
seketika duniapun bergoncang. Para pemuda yang tadinya berlari kencang kini
terpaksa menghentikan larinya. Semua mata tertuju pada satu titik. Ibu pemilik
yang biasa kami panggil Ibu Lili menatap kami dengan tatapan terkejut. Pipinya
mulai memerah, dan diapun berlari kembali keruangannya.
BRUUKK...
Terjadi lagi. Kali ini, Ibu Lili terjatuh dan terguling dari anak tangga terakhir.
Badannya yang mirip bola sangat cocok saat dia menggelinding. Pemuda pemuda itu
yang biasa kami panggil Bang Sulthan dan Bang Hauzan berlari mencoba menolong
Bu Lili. Mereka memang sering membantu Bu Lili sehingga mereka selalu diberi
diskon olehnya.
Bang Hauzan
lompat dari tangga seolah sedang melakukan parkour sedangkan Bang Sulthan
meluncur lewat pegangan tangga. Mereka selalu bersaing dalam hal apapun. Mulai
dari pelajaran, hingga mencari perhatian Bu Lilipun mereka lombakan. Entah
selera para pemuda sekarang itu ibu ibu aku pun gak tahu dan gak mau tahu
tentang itu.
Sedangkan
mereka asyik menolong Bu Lili, aku pergi kearah kamar no 5, sumber masalah ini.
Tok tok tok... Aku mengetuk pintu itu sekali. Namun, tidak ada jawaban. Tok tok
tok... Untuk kedua kalinya, tidak juga ada jawaban. Akupun sedikit penasaran
tentang hal itu. Apakah ada kasus yang dapat aku selesaikan saat ini? Akhirnya
kasus itupun datang. Pikirku...
Sejak aku
membaca novel Sherlock Holmes, aku selalu menganggap dirkiku ini adalah Jelmaan
Sherlock Holmes, di abad 21. Aku selalu berkhayal, apakah ada kasus yang dapat
aku pecahkan ataupun tidak. Oleh karenanya, aku sudah sama seperti anak anak
yang lain, sama seperti Otaku yang lain, namun tidak dalam budaya jepang.
Melainkan tergila gila karena Sherlock Holmes karya Sir Arthur ini.
Pintupun
terpaksa kubuka. DUNIA SUDAH KIAMAT? Kata kata itu seketika kuucapkan melihat
kondisi kamarnya. Tak terbayangkan olehku, ternyata kamar seorang siswi SMA itu
lebih parah dari kamarku.
Matapun aku
gerak gerikkan, menjelajahi seluruh ruangan. Mataku menangkap sinyal kuat,
ditempat lemari pakaian yang terjatuh. Seluruh pakaiannya keluar, berserakan
dimana mana. Baik pakaian luar, maupun pakaian dalam tersebar bahkan ada yang
sampai ke atas kasur dan meja belajar. Entah bagaimana kehidupannya, aku sudah
tidak peduli.
Aku segera
menutup pintunya, namun terdengar suara yang aku rasa dia berbicara padaku.
"Jangan
ditutup." katanya. Aku tidak jadi menutupnya, dan membukanya mencari
sumber suara itu.
"Di dalam
sini." Ternyata suaranya berasal dari bawah lemari yang terjatuh. aku
mengangkat lemarinya, dan melihat sesuatu yang aneh disana.
"Apa yang
kau lakukan dengan pakaian yang seperempat tertutup itu?" Aku melihat
wajahnya, karena kancing yang ia gunakan terbuka semua.
"A-apa
yang kau lihat, Hentai."
"Hentai?
Bahasa planet mana tuh?" aku langsung melepaskan tanganku dari lemari itu
dan Brukk... dia terperangkap didalam lemari itu sekali lagi.
"Apa yang
kau lakukan. Cepat keluarkan aku!" Aku benci dengan orang yang meminta
secara tidak baik seperti ini. untuk orang yang tidak baik, maka aku hanya
harus bersikap tidak baik pula.
"Memohonlah
kepadaku. Baru akan aku bantu, mungkin."
"Kumohon,
Ryan, angkatkan lemari pakaian menyebalkan ini. Kumohon." Setelah
mendengarnya, bukannya langsung mengangkatnya, aku malah tertawa menyeringa
mendengarnya.
Hup. Aku
mengangkat lemarinya dan diapun keluar dengan selamat. Namun, bukannya mendapat
rasa terimakasih, aku malah diberikan sebuah tamparan hebat dipipi kiriku. Darah
keluar dari mulutku sedikit.
"Kenapa
kau masih disini, Hentai? Pergi sekarang, atau aku panggil Bu Lili. Pergi
cepat"
"Apa yang
kau lakukan? Inikah balasannya? Setelah aku mengangkat itu, kau tidak bisa
mengatakan 2 kata yang sangat mudah itu? yah, terserah. Aku tidak berharap dan
tidak peduli denganmu." Aku berjalan keluar. Aku berhenti sejenak di daun
pintu, membalikkan kepalaku. "itu sebabnya aku membenci perempuan."
Aku menutup pintu pink bertuliskan 'Miracle' itu dan menuju kebawah.
Kematian #2
Senin, 14 Maret
2016...
Aku berjalan
jalan sebentar. Mencari udara segar disubuh hari, ternyata cukup menyenangkan.
Sudah hampir 1 minggu sejak libur aku berada dikamar terus, dengan gorden yang
tak pernah kusingkap dan lampu kamar yang tak pernah menyala. Satu satunya
sumber cahaya adalah komputer yang terus menyala selama 24 jam non stop setiap
harinya. Walaupun begitu, kamarku tidak bisa disebut kapal pecah karena semua
barang barang aku letak pada tempatnya. Tidak seperti makhluk aneh yang berada
disamping kamarku itu. kamarnya seperti kapal pecah, tidak, bahkan lebih mirip
tempat bekas terjadinya perang dunia kedua.
Aku berjalan
jalan, mengitari gang rumah aneh ini yang membuatku sakit kepala terus. Ibu
pemilik yang gayanya minta ampun, dua mahasiswa bodoh yang selalu mencari
perhatian perempuan, ditambah makhluk itu, ah aku tidak sanggup
membayangkannya.
Beberpa langkah
dari depan pagar, terdengar teriakan minta tolong. Seorang wanita
paruh baya sedang mengejar seorang pria yang memakai pakaian hitam semua serta
memakai penutup muka seperti penjahat penjahat kebanyakan yang ada di film.
Penjahat itu lewat didepanku, namun aku tidak bereaksi apa apa. Aku hanya
menyaksikan mereka yang kejar kejaran seperti anak kecil itu.
Namun, entah
kenapa aku tidak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Pria berbaju hitam itu
seakan menghipnotisku agar pergi ketempatnya. Aku terpaku beberapa detik
disana. mereka belok kekanan, lalu ke kiri, tempat yang sunyi dan sepi, tempat
yang sangat sempurna untuk kabur dari wanita itu.
'Yah, aku tidak
perlu ikut campur dalam urusan mereka', gumamku. Aku tidak ingin melibatkan
diriku dalam hal yang merepotkan begitu.
Aku lalu
melanjutkan perjalanan yang seharusnya sedikit menyegarkan, sekarang aku malah
bad mood dibuatnya. Aku tidak tahu, tapi aku merasa ada sesuatu yang
menjanggal. Aku merasa, ada sesuatu yang buruk yang akan menimpaku. Aku
memutuskan untuk pulang, setelah berjalan sekitar 30 menit.
Aku memutuskan
untuk pergi menenangkan diri sebentar. Ya, tempat yang aku sebutkan tadi adalah
tempat yang paling menenangkan diantara semua tempat di Pekanbaru ini. Namun,
bukannya menyenangkan, malah menjadi menakutkan.
Mayat...
Sesosok tubuh
tanpa tangan tergeletak disana. Bau amis dari darah segar yang menyengat, serta
kondisi yang mengerikan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Wanita paruh baya
tadi, tak kusangka aku menemukannya dalam kondisi seperti itu. Karena panik,
aku mencari cari orang disana, walaupun aku tahu kalau disana tidak ada orang
sedikitpun.
Lalu, aku
menelepon seseorang dari tempatku agar memanggil ambulan dan polisi ke tempatku
sekarang. Miracle, dan dua mahasiswa lainnya datang.
"Apa yang
terjadi, Ryan?" Bang Hauzan menatapku dengan nafas terengah engah. Aku
melirik Miracle dan Bang Sulthan, namun aku tidak ingin mengatakannya.
"Begini,
bang. Miracle, kau tidak boleh mendengarnya." Lalu aku membisikkan
keadaannya kepada kedua pemuda itu. Miracle menatap reaksi terkejut dari mereka
dengan wajah penuh tanda tanya.
"Benarkah?
K-kami sudah memanggil ambulan dan polisi. Tapi, apa kau yakin, kalau dia itu
masih hidup?"
"Tidak.
Dengan darah yang keluar sebanyak itu, aku tidak yakin kalau dia masih hidup.
Hei, Miracle, apa yang kau lakukan?" Dia berjalan kearah onggokan terpal
hitam tempat tubuh itu aku tutupi.
"I-itu...
Itu adalah... Ibu?" Aku terkejut mendengarnya. Dia berlari dan membuka
terpal hitam itu, matanya seketika menatap tak percaya apa yang telah ia
temukan. "Ibu? Ini bohongkan? Ibu? Ibu? Bangun Bu... Bu, bangun Bu...
Bangun....!" Aku mengurungkan niatku untuk mencegahnya. Dia menatap jasad
ibunya, air mata mengalir dari matanya dan terjatuh tepat diwajah ibunya.
Daratan yang sunyi itupun berubah karena tangisannya. Kedua mahasiswa itu
menghampirinya, mencoba menenangkannya. Namun, Rahel mengusir mereka.
"Dia belum
mati, pergi kalian Mahasiswa bodoh. Dia hanya sedang menjahiliku. Dia hanya
sedang tidur, pura pura mati biar aku terkejut. Pergi kalian, tinggalkan kami.
Apa yang kalian lakukan? Jangan sentuh aku. Ibu... Ibu belum mati kan? Ibu
masih hidup, benar kan?" Bang Sulthan yang ingin menenangkannya, malah
dibentak dan wajahnya kena hantaman tangan kirinya hingga hidungnya berdarah.
Kami bertiga
terdiam, terpaku dalam suasana aneh ini. aku tidak tahu harus menyikapinya
bagaimana, namun suasana ini terasa asing sekali bagiku. Apa ini? aku tidak
tahu. Aku ingin menenangkannya, namun kalimat yang melintas dipikiranku adalah
"Aku tidak akan melibatkan diriku."
"Dia sudah
mati, bodoh." Aku tegak dibelakangnya. "Jangan lakukan hal yang bodoh
lagi."
"Apa yang
kau katakan? Ibu belum mati. Ibuku belum mati..."
"Kau...
Apa kau bodoh?" Aku memegang tangannya, dan untuk pertama kalinya, aku
menatap dengan jelas, wajah perempuan. "Apa yang kau harapkan? Apa yang
kau pikirkan? Apa yang membuatmu tidak percaya? Lihat kenyataan. Lihat apa yang
ada didepanmu. Apa kau bodoh? Apa kau buta? Percayalah pada kenyataan" Aku
melepasan genggamanku. Dia hanya tertunduk. "Hentikan rengekkanmu itu,
dasar perem-" Sekali lagi, aku merasakan tamparannya. Keras sekali, aku
bahkan terjatuh dibuatnya.
"Kau...
Kau yang membunuhnya, bukan?"
"Apa yang
kau katakan? Kalau aku yang membunuhnya, aku pasti sudah kabur duluan, atau
tidak memanggil kalian disini."
"Kau...
kau pasti yang membunuhnya. Kau yang membunuh Ibuku bukan? benarkan? Jangan mencoba...
Diam kau. Jangan mengelak lagi... Kau yang membunuhnya bukan?" Aku tak
tahan mendengarnya. Nada suara itu, aku membencinya. Aku tidak ingin
mendengarnya. Rasanya sakit jika aku mendengarnya.
Dia tertunduk,
dan menyandarkan kepalanya kedadaku. Kau yang membunuhnya, bukan? dia terus
mengatakan kalimat itu.
***
Sirinepun
akhirnya terdengar. Kami tetap dalam posisi kami masing masing, dengan dia yang
masih terus mengatakan kalimat meneybalkan itu, dan dua pemuda yang tetap
terdiam mematung yang sedang tak percaya melihat keadaannya. Aku tidak tahu
harus berbuat apa. Ini adalah suasana yang sangat asing, aku yakin pernah
mengalami hal seperti ini, namun kenapa perasaan ini terasa asing?
3 orang petugas
datang, mengangkut mayatnya ke dalam ambulan. Kami berdua tetap mematung. Wajah
linglung terus aku tunjukkan. Kalimat yang sama terus dia lontarkan.
Tubuhnya
mendorongku kebelakang. Kamipun tumbang seperti pohon yang baru ditebang. Tiba
tiba pandanganku kabur, dan semuanya gelap gulita. Tak terlihat satupun bayangan
disana. tak terdengar satupun suara disana. tempat sunyi, gelap, melebihi
lubang sumur yang dalam, melebihi goa jepang yang panjang.

0 komentar:
Posting Komentar