Selasa, 06 Desember 2016

Hijab

Hijab 
                Ini adalah sebuah cerita, yang aku ambil dari keseharianku sebagai seorang muslimah. Aku tahu, sebagai seorang muslimah itu, banyak halangan dan rintangan yang harus aku lalui, banyak ujian dan cobaan yang selalu datang silih berganti, banyak sindiran dan cemoohan yang datang dari lingkungan sekitar.
                Namun, itu tidak membuatku patah semangat. Itu tidak membuatku putus asa. Demi menegakkan ajaran Allah Aza Wajalla, aku rela melakukan apapun asalkan itu bermanfaat. Aku disindir, yang harus aku lakukan hanyalah bersabar. Aku dicemoohi, yang harus aku lakukan adalah bersabar. Namun, tidak ada hadiah yang indah selain hadiah yang Allah berikan kelak di Jannah-Nya.
                Sebenarnya, banyak muslimah muslimah yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi, terutama dibagian fashion. Namun, hanya sedikit dari mereka yang mengerti, apa fashion yang harus dikenakan oleh wanita muslimah?
Pukul 13.20 WIB...
                Net...Not...Net...Not... Bunyi bel sekolah yang kali ini bernadakan Moonloght Sonaata karya Beethoven. Bel pelajaran terkhirpun dibunyikan. Seluruh murid kelas 11 IPS 2 menyambutnya dengan rasa kecewa yang mendalam. Bagaimana tidak, guru yang masuk hari ini adalah Buk Darmalia Hestia Siregar, seorang guru Kewarganegaraan yang terkenal dengan disiplinnya. Namun, aku sangat menyukai ibuk itu. dia ramah, baik, dan suka memberikan nasehat kepada kami, walaupun dengan cara yang sedikit kasar.
                Dia membuka pintu, berjalan layaknya seorang bos yang di beri karpet merah di tengahnya menuju ke meja guru yang berada di sudut kanan depan kelas kami. Kami biasanya memanggilnya dengan sebutan Buk DL.
                Setelah duduk, mata tajam Buk DL segera tertuju pada salah seorang temanku yang berada disudut belakang kelas. Rambutnya basah akibat keringat, dan tangannya yang asik memainkan sebuah buku tulis berwarna kuning. “Kenapa lepas jilbab, Ukhti?” Buk DL  bertanya langsung padanya.
                “Panas kali buk. Gerah disini, suer deh.” Jawabnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
                “Wahai Ukhti, sesungguhnya engkau itu adalah muslimah yang luar biasa, makhluk mulia yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam islam. Tapi, kenapa engkau melepaskan pakaianmu hanya karena panasnya cuaca ini?” Seperti biasa, Buk DL berdiri tegak menatapi setiap wanita muslimah yang ada dikelas kami.
                “Tapi panas kali loh buk. Dan juga, amalanku kan sudah banyak. aku sudah sering berpidato, berdakwah di jalan Allah, menyebarkan kebaikan kebaikan, lalu kenapa masalah jilbab harus dipermasalahkan juga? Bukannya disini tidak ada satupun kaum adam?”
                “Benar, memang tidak ada satupun kaum adam. Tapi, aurat tetaplah aurat, Dil.” Aku memberikan tanggapan atas pernyataan dia barusan.
                “Ya, engkau benar ya Ukhti Ima. Allah telah berfirman di dalam surah al-ahzab ayat 59 yang artinya, ‘Wahai Nabi, katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu dan istri istri orang mukmin, hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Ana juga pernah membaca di sebuah buku, jikalau orang yang paling banyak penghuninya di neraka, adalah para kaum hawa. Kenapa?” Buk DL melontarkan pertanyaannya ke Dila.
                “Tidak tahu, Buk.”
                “Karena masalah pakaian. Kaum Hawa, tidak boleh menunjukkan auratnya kepada orang lain, selain mahramnya. Itu sebabnya, kita sebagai wanita, harus bisa menjaga aurat kita.”
                “Kalau kayak Santi tu, boleh buk?” Dila menunjuk teman sebangku ku. Menurutku, Santi sangat imut dan bahkan aura feminimnya terpancar jelas di kelas, bahkan disekolah.
                Jika berjalan, dia selalu menundukkan wajahnya. Jika berbicara, dia selalu melembutkan suaranya. Jika berbusana, dia selalu menutup tubuhnya, bahkan sampai menggunakan cadar dan sarung tangan. Bahkan sampai tahun ke dua ini, dia sudah mendapatkan 4 kali pernyataan cinta dari teman seangkatan, ataupun kakak kelas.
                Buk DL mengatakan kalau kami harus mencontoh Santi. Tidak hanya masalah berpakaian, tapi juga masalah perilaku dan kerohanian. Walaupun sudah mendapatkan pernyataan dari berbagai cowok yang terkenal di sekolah kami, dia tetap menolak mereka dengan cara yang sangat lembut dan halus. Namun, tidak sedikit juga temannya yang membencinya, karena cowok yang mereka taksir lebih memilih Santi dari pada mereka.
                Net...Not... Bel pulang dibunyikan. Aku dan Santi segera pergi ke Mushala, untuk berkumpul bersama anak anak Rohis X. Kami berlima, selalu dikatakan sebagai orang sok alim. Terutama di kelas, Santi sering di permainkan oleh teman temanku. Keluguannya sangatlah terpajang di wajahnya yang tak berdosa itu. Oleh sebab itu, kami selalu membantu Santi dalam setiap masalah yang ia alami. Sebenarnya, masalah kami juga sudah banyak dan mungkin lebih berat dari yang Santi alami saat ini. namun, karena kerapuhan dan kerendahan hatinya, dengan mengabaikan masalah kami, kami siap menampung masalah baru yang ada dipundaknya.
                Kali ini, dia bercerita tentang kak Roni, kakak kelas 12 IPA 2 yang menyatakan perasaannya ketika bel istirahat tadi. Santi mengatakan kalau dia juga menyukai Kak Roni, dan ingin bersama dengannya. Tapi, dia juga tidak bisa meninggalkan keimanannya dan kecintaannya kepada kedua orang tuanya. Dia takut, kalau cintanya ke Kak Roni lebih besar dari cintanya ke kami. Dia takut, kalau cintanya ke Kak Roni lebih besar dari cintanya kepada kedua orang tuanya. Dan yang paling dia takuti, adalah kalau cintanya ke Kak Roni lebih besar dari cintanya ke sang Khalik.
                Tanpa sadar, air mataku menetes membasahi pipiku. Aku terharu mendengar pernyataannya barusan. Aku tidak menyangka, masih ada orang seperti dia, yang selalu menjaga rasa cintanya kepada lawan jenis sampai seperti ini. kami dapat melihatnya dengan jelas, bahwa dia sangat terbebani dengan perasaannya. Namun, dia masih dapat tersenyum, masih dapat tertawa, dan masih dapat bahagia, seperti orang orang yang hidup bersama orang yang mereka kasihi.
                Memang, kalau masalah perasaan itu adalah masalah yang sangat sulit, masalah yang sangat membingungkan. Kita tidak tahu, kapan perasaan itu muncul. Kita tidak tahu, kapan perasaan itu ada di dalam hati kita. Santi mengatakan, kalau dia hanya bisa memendam perasaan itu, sampai saatnya tiba, sampai saatnya mereka Halal untuk saling jatuh cinta, sampai saatnya mereka dapat berbahagia bersama.
                Kali ini, aku memang dibuatnya terdiam tak dapat berkata apa apa. Aku tidak menyangka, hanya dengan berpakaian sederhana sepertinya itu, banyak orang yang tertarik kepadanya. Hanya bermodalkan perilaku yang sopan sepertinya itu, banyak orang yang tertarik dengannya.
Walaupun dia dapat memilih salah seorang dari para pangeran yang menyatakan perasaannya kepadanya, tapi dia tetap menguatkan imannya, menguatkan ibadahnya, dan selalu percaya bahwa jalan yang ia ambil adalah jalan yang terbaik untuknya.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hijab

0 komentar:

Posting Komentar