Hijab
Ini adalah sebuah cerita, yang
aku ambil dari keseharianku sebagai seorang muslimah. Aku tahu, sebagai seorang
muslimah itu, banyak halangan dan rintangan yang harus aku lalui, banyak ujian
dan cobaan yang selalu datang silih berganti, banyak sindiran dan cemoohan yang
datang dari lingkungan sekitar.
Namun, itu tidak membuatku patah
semangat. Itu tidak membuatku putus asa. Demi menegakkan ajaran Allah Aza
Wajalla, aku rela melakukan apapun asalkan itu bermanfaat. Aku disindir, yang
harus aku lakukan hanyalah bersabar. Aku dicemoohi, yang harus aku lakukan
adalah bersabar. Namun, tidak ada hadiah yang indah selain hadiah yang Allah
berikan kelak di Jannah-Nya.
Sebenarnya, banyak muslimah
muslimah yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi, terutama dibagian fashion.
Namun, hanya sedikit dari mereka yang mengerti, apa fashion yang harus
dikenakan oleh wanita muslimah?
Pukul
13.20 WIB...
Net...Not...Net...Not... Bunyi
bel sekolah yang kali ini bernadakan Moonloght Sonaata karya Beethoven.
Bel pelajaran terkhirpun dibunyikan. Seluruh murid kelas 11 IPS 2 menyambutnya
dengan rasa kecewa yang mendalam. Bagaimana tidak, guru yang masuk hari ini
adalah Buk Darmalia Hestia Siregar, seorang guru Kewarganegaraan yang terkenal
dengan disiplinnya. Namun, aku sangat menyukai ibuk itu. dia ramah, baik, dan
suka memberikan nasehat kepada kami, walaupun dengan cara yang sedikit kasar.
Dia membuka pintu, berjalan
layaknya seorang bos yang di beri karpet merah di tengahnya menuju ke meja guru
yang berada di sudut kanan depan kelas kami. Kami biasanya memanggilnya dengan
sebutan Buk DL.
Setelah duduk, mata tajam Buk DL
segera tertuju pada salah seorang temanku yang berada disudut belakang kelas.
Rambutnya basah akibat keringat, dan tangannya yang asik memainkan sebuah buku
tulis berwarna kuning. “Kenapa lepas jilbab, Ukhti?” Buk DL bertanya langsung padanya.
“Panas kali buk. Gerah disini,
suer deh.” Jawabnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Wahai Ukhti, sesungguhnya
engkau itu adalah muslimah yang luar biasa, makhluk mulia yang memiliki
kedudukan yang sangat tinggi dalam islam. Tapi, kenapa engkau melepaskan
pakaianmu hanya karena panasnya cuaca ini?” Seperti biasa, Buk DL berdiri tegak
menatapi setiap wanita muslimah yang ada dikelas kami.
“Tapi panas kali loh buk. Dan
juga, amalanku kan sudah banyak. aku sudah sering berpidato, berdakwah di jalan
Allah, menyebarkan kebaikan kebaikan, lalu kenapa masalah jilbab harus
dipermasalahkan juga? Bukannya disini tidak ada satupun kaum adam?”
“Benar, memang tidak ada satupun
kaum adam. Tapi, aurat tetaplah aurat, Dil.” Aku memberikan tanggapan atas
pernyataan dia barusan.
“Ya, engkau benar ya Ukhti Ima. Allah telah berfirman
di dalam surah al-ahzab ayat 59 yang artinya, ‘Wahai Nabi, katakanlah kepada
istri istrimu, anak anak perempuanmu dan istri istri orang mukmin, hendaknya
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Ana juga pernah membaca
di sebuah buku, jikalau orang yang paling banyak penghuninya di neraka, adalah
para kaum hawa. Kenapa?” Buk DL melontarkan pertanyaannya ke Dila.
“Tidak tahu, Buk.”
“Karena masalah pakaian. Kaum
Hawa, tidak boleh menunjukkan auratnya kepada orang lain, selain mahramnya. Itu
sebabnya, kita sebagai wanita, harus bisa menjaga aurat kita.”
“Kalau kayak Santi tu, boleh
buk?” Dila menunjuk teman sebangku ku. Menurutku, Santi sangat imut dan bahkan
aura feminimnya terpancar jelas di kelas, bahkan disekolah.
Jika berjalan, dia selalu
menundukkan wajahnya. Jika berbicara, dia selalu melembutkan suaranya. Jika
berbusana, dia selalu menutup tubuhnya, bahkan sampai menggunakan cadar dan
sarung tangan. Bahkan sampai tahun ke dua ini, dia sudah mendapatkan 4 kali
pernyataan cinta dari teman seangkatan, ataupun kakak kelas.
Buk DL mengatakan kalau kami
harus mencontoh Santi. Tidak hanya masalah berpakaian, tapi juga masalah
perilaku dan kerohanian. Walaupun sudah mendapatkan pernyataan dari berbagai
cowok yang terkenal di sekolah kami, dia tetap menolak mereka dengan cara yang
sangat lembut dan halus. Namun, tidak sedikit juga temannya yang membencinya,
karena cowok yang mereka taksir lebih memilih Santi dari pada mereka.
Net...Not... Bel pulang
dibunyikan. Aku dan Santi segera pergi ke Mushala, untuk berkumpul bersama anak
anak Rohis X. Kami berlima, selalu dikatakan sebagai orang sok alim. Terutama
di kelas, Santi sering di permainkan oleh teman temanku. Keluguannya sangatlah
terpajang di wajahnya yang tak berdosa itu. Oleh sebab itu, kami selalu
membantu Santi dalam setiap masalah yang ia alami. Sebenarnya, masalah kami
juga sudah banyak dan mungkin lebih berat dari yang Santi alami saat ini.
namun, karena kerapuhan dan kerendahan hatinya, dengan mengabaikan masalah
kami, kami siap menampung masalah baru yang ada dipundaknya.
Kali ini, dia bercerita tentang kak
Roni, kakak kelas 12 IPA 2 yang menyatakan perasaannya ketika bel istirahat
tadi. Santi mengatakan kalau dia juga menyukai Kak Roni, dan ingin bersama
dengannya. Tapi, dia juga tidak bisa meninggalkan keimanannya dan kecintaannya
kepada kedua orang tuanya. Dia takut, kalau cintanya ke Kak Roni lebih besar
dari cintanya ke kami. Dia takut, kalau cintanya ke Kak Roni lebih besar dari
cintanya kepada kedua orang tuanya. Dan yang paling dia takuti, adalah kalau
cintanya ke Kak Roni lebih besar dari cintanya ke sang Khalik.
Tanpa sadar, air mataku menetes
membasahi pipiku. Aku terharu mendengar pernyataannya barusan. Aku tidak
menyangka, masih ada orang seperti dia, yang selalu menjaga rasa cintanya
kepada lawan jenis sampai seperti ini. kami dapat melihatnya dengan jelas,
bahwa dia sangat terbebani dengan perasaannya. Namun, dia masih dapat
tersenyum, masih dapat tertawa, dan masih dapat bahagia, seperti orang orang
yang hidup bersama orang yang mereka kasihi.
Memang, kalau masalah perasaan
itu adalah masalah yang sangat sulit, masalah yang sangat membingungkan. Kita
tidak tahu, kapan perasaan itu muncul. Kita tidak tahu, kapan perasaan itu ada
di dalam hati kita. Santi mengatakan, kalau dia hanya bisa memendam perasaan
itu, sampai saatnya tiba, sampai saatnya mereka Halal untuk saling jatuh cinta,
sampai saatnya mereka dapat berbahagia bersama.
Kali ini, aku memang dibuatnya
terdiam tak dapat berkata apa apa. Aku tidak menyangka, hanya dengan berpakaian
sederhana sepertinya itu, banyak orang yang tertarik kepadanya. Hanya
bermodalkan perilaku yang sopan sepertinya itu, banyak orang yang tertarik
dengannya.
Walaupun dia dapat memilih salah seorang dari para pangeran yang
menyatakan perasaannya kepadanya, tapi dia tetap menguatkan imannya, menguatkan
ibadahnya, dan selalu percaya bahwa jalan yang ia ambil adalah jalan yang
terbaik untuknya.

0 komentar:
Posting Komentar