Selasa, 18 Oktober 2016

Reason?

Cerita Pendek Misteri-
Reason?
Aku berjalan, mengitari kota pekanbaru, sambil memegang sebuah dompet. Aku melihat kedalamnya, uang 2 lembar Tuanku Imam Bonjol, 3 lembar Pangeran Antasari, dan 5 lembar kapiten Patimura. Dengan uang yang pas pasan itu, aku melihat kelangit, dan berharap tidak ada hal yang membuatku mengeluarkan uang disana.
            Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku sampai di lokasi terjadinya pembunuhan. Dengan gang kecil yang sepi, tong sampah yang tumbang dan berserakan, dan sesosok tubuh yang tergeletak, serta tanah yang sedikit basah diakibatkan hujan deras beberapa menit yang lalu, membuat bulu kudukku merinding.
            “Selamat datang, Alexa. Kami sudah menunggumu.” Kata Paman Rahmat, seorang polisi berpangkat Iptu.
            “Gimana keadaannya, paman?” Aku lalu melepaskan jaket ku, dan meletakkannya diatas motor polisi.
            “Menyedihkan. Tulang rusuknya patah, rahang atasnya patah, pelipisnya terluka, dan jantungnya ditembak. Tapi, kita tidak menemukan jejak kaki dari pelaku, maupun dari korban.” Matanya sedikit mengecil, menandakan ia sangat prihatin terhadapnya. Lalu ia memberikanku sebuah kertas, yang berisikan data mengenai korban.
            “Waktu kematian korban adalah antara jam 8 sampai jam 8.30. berarti, sudah 30 menit ya? apakah jalanan sudah diblokir?” tanyaku memastikannya.
            “Tenang saja. kami sudah memblokir dengan radius 2 Km dari sini. Dan juga, apa Kamu tahu sesuatu?”
            “Hmm... Biar aku periksa dulu.” Aku lalu membungkuk, mencoba memijak tanah, lalu meraba tanah yang basah itu, dan berdiri kembali. “Ada perkelahian disini. aku pikir kalau si tersangka menggunakan suatu benda yang terbuat dari aluminium yang ringan, dan memukul si korban menggunakan aluminium itu. Aku tidak tahu pasti panjangnya berapa, tapi dilihat dari luka memarnya, aku dapat mengatakan kalau lebar dari pemukulnya sekitar 4-6 cm. dan juga, dia menuliskan sesuatu, tunggu sebentar,  aku akan memeriksanya.” Aku lalu menunduk, dan mencoba meraba tanah itu kembali. Aku merasakan adanya tanah yang tenggelam, walaupun sedikit. Aku berdiri, dan tersenyum sebentar.
            “Kenapa Kamu tersenyum? Apa Kamu dapat sesuatu yang menarik?” wajah Paman Rahmat terlihat sangat bingung, dan itu wajar saja sebab aku tiba tiba tersenyum kecil setelah meraba tanah tersebut.
            “Hmm... gimana mengatakannya, ya? Aku hanya bisa menebak gambar yang ditulis korban, yaitu gambar payung. Jadi, ada kemungkinan kalau pelakunya menggunakan payung, untuk menghindari dari bubuk musiu akibat tembakan tersebut. dan juga, disini dikatakan kalau dia pemimpin organisasi mawar putih. Dia menggunakan jas, dan menggunakan mawar putih disaku bajunya. Jadi, ada kemungkinan kalau dia sedang atau akan mengadakan pertemuan. Bajunya itu mencolok, jadi kita akan mudah untuk mendapatkan anggotanya, dan menanyakannya. Kalau begitu, bisakah kita mencari mereka sekarang? Oh ya, satu lagi. Kalau bisa, cari orang yang tingginya sekitar 170-180 cm, dengan berat sekitar 70-80 Kg, walaupun dia tidak menggunakan jas yang sama. Dan sebaiknya kita membagi 2 tim, tim pertama bertugas untuk mencari senjata pembunuhannya, dan tim kedua bertugas untuk mencari tersangkanya.”
            Lalu Paman Rahmat langsung membagi mereka menjadi 2 tim, dan menyuruh mereka melakukan apa yang aku katakan. Aku senang melihat mereka. Mereka bertindak cepat dan sangat efisien. Hanya dalam hitungan menit, mereka sudah menemukan 4 tersangka dengan kriteria yang aku katakan. Paman Rahmat langsung menyuruh mereka bertiga untuk pergi ke sebuah ruangan kosong untuk dimintai keterangan.
            Sementara Paman Rahmat melakukan tugasnya, aku juga melakukan tugasku sendiri, yaitu mencari payung seperti yang digambarkan. Aku mencarinya di beberapa tempat, namun tidak menemukannya. Aku lalu masuk ke sebuah jalan kecil, yang sama sekali tidak ada orang disana. aku berjalan jalan sebentar, dan menikmati pemandangan dari rimbunan pohon besar. Tak lama kemudian, aku terkejut, dan tersenyum, serta tertawa. Akhirnya aku mendapatkan bukti penting dari kasus ini, yaitu sebuah payung. Aku lalu memeriksa payung tersebut dengan cara mengembangkannya, dan menemukan sebuah lobang berdiameter sekitar 8-13cm. Payung itu transparan, jadi sangat mudah untuk melihat dari balik payung itu. Aku lalu membawa payung itu untuk diserahkan kepada polisi agar di periksa lebih detail.
            “Yo, Paman. Gimana? sudah selesai? Apa senjatanya sudah ditemukan? Aku menemukan bukti penting.” Aku lalu memberikan payung itu.
            “Hahaha... Anak dari Detektif International memang hebat.” Kata Paman Rahmat sambil memegan pundakku. Aku merasa sedikit kesal, dan menepis tangannya.
            “Maaf, paman. Jangan ucapkan kalimat itu lagi. Aku tidak suka mendengarnya. Kalau begitu, bisa aku pinjam pernyataan dari tersangka? Dan bisa panggilkan semuanya kemari? Aku sudah hampir menyelesaikannya.” Aku lalu mengambil kertas yang ada di meja, dan membacanya. Berikut, keterangngannya.
            Ahmad Rudi (LK), umur 31 tahun. Anggota organisasi mawar putih, mengenakan dress code yang sama dengan korban. Tinggi sekitar 176 cm, dengan berat 71 Kg. dibagian bawah celananya, terdapat noda pasir. Mengaku, ia sedang menunggu temannya didekat tong sampah di depan swalayan.
            Dermian Leo (LK), umur 28 tahun. Anggota organisasi mawar putih, mengenakan dress code yang sama dengan korban. Tinggi sekitar 170 cm, dengan berat 77 Kg. Bajunya sedikit basah akibat kehujanan.  Mengaku, ia saat kejadian ia sedang mengendarai motornya, dan baru sampai disana 5 menit setelah kejadian.
            Andera Yudi (LK), umur 25 tahun. Bukan anggota organisasi mawar putih, mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna ungu dengan corak hitam. Dan celana berwarna abu abu mengkilap, dengan sepatu boot tinggi. Tangan kanannya dibalut dengan perban hingga ke sikunya. Tingginya sekitar 177 cm, dengan berat 76 kg. tidak ada pakaian yang basah. Mengaku pada saat kejadian, dia sedang berada di dalam toko kue.
            Afrizal Muftia (PR), umur 27 tahun. Bukan anggota organisasi mawar putih, mengenakan baju kemeja lengan panjang berwarna pink polos. Dan celana jeans hitam, dengan sepatu sport. Tingginya sekitar 170 cm, dan berat 70 kg. pakaiannya tidak basah. Ia mengaku, pada saat kejadian dia sedang berteduh sehabis olah raga.
            Aku tersenyum sekali lagi. Kali ini, dengan senyuman kecil, yang menandakan niat tertentu. Aku menemukan siapa pelakunya. Dan juga, setelah mendapatkan data yang dapat diambil dari payung itu, aku akhirnya memenangkannya.
            “Baiklah, abang abang, dan kakak sekalian. Perkenalkan, saya Alexa Kairy, akan mengungkapkan kebenaran dari kasus ini.” kataku sambil membungkukkan diri memberikan salam.
            “Tunggu sebentar. Jadi, kami diperiksa, atas permintaan anak SMA ini? lihatlah, dia tidak terlihat pintar. Lagian, kamu itu siapa?” kata Kak Afrizal dengan nada sedikit marah dan kecewa.
            “Yah, maaf saja kalau aku tidak pintar. Aku hanyalah seorang pejalan kaki yang nyasar ke setiap kasus pembunuhan. Baiklah, sekarang aku akan mengatakannya. Pertama, dari kondisi korban. Pelaku menggunakan sebuah benda seperti pipa yang terbuat dari aluminium, dengan panjang sekitar 50-70 cm, dan lebar sekitar 4-6 cm. hal itu dapat diketahui dari jarak jejak kaki korban dan pelaku, serta ukuran memar yang diterima oleh korban. Dan yang kedua, kenapa pelaku tidak membunuh korban menggunakan pipa itu, melainkan menggunakan pistol? Sebelumnya, aku ingin bertanya, apakah ada alasan dibalik anda menggunakan perban itu, Bang Andera? Apakah ditanganmu itu ada bubuk musiu akibat tembakan yang anda lakukan?” kataku sambil tersenyum licik dan tatapan sinis terhadapnya.
            Lalu ia menjawab dengan sangat gugup“I..itu, tidak ada alasan khusus. Aku hanya melukai tanganku saat memasak. Itu saja.”
            “Heee...? memasak, sampai ke tangan dan siku ya? Hebat sekali caranya kok bisa pisau tiba disana. Hahaha...” Kataku sambil tertawa terbahak bahak akibat mendengar dari penjelasannya.
            “Di..diam kau, Bocah...”nada bicaranya terdengar bergelombang, menandakan ia sedang geram dan marah.
            “Maaf maaf, tapi apa yang bisa anda lakukan? Aku ada dipihak polisi, jadi anda tidak bisa macam macam denganku. Hahaha... maaf, jangan kesal begitu. Baiklah, akan aku lanjutkan. Aku menemukan sebuah payung di dekat sebuah jalan kecil. Disana tidak ada orang ataupun rumah. Jadi, sangat mudah untuk menyembunyikan benda disana. aku lalu mengambilnya dan menyuruh polisi untuk melakukan pengecekan terhadap payung ini. karena hujan, ada beberapa sidik jari yang hilang, namun ada satu yang tertinggal. Yaitu sidik jari telunjuk sebelah kiri. Dan juga, polisi baru menemukan senjata yang aku sebutin tadi, yaitu pipa aluminium. Disana, ada beberapa sidik jari yang melekat, dan tentu saja ada satu sidik jari yang sama, yaitu sidik jari telunjuk sebelah kiri. Dengan ini, dapat kita simpulkan kalau pelakunya menggunakan payung dan pipa ini. Payung ini disembunyikan, jadi apakah ada alasannya, kenapa baju anda basah, Bang Leo?” kataku sambil tersenyum lagi dan menatap sinis kepadanya, sama seperti yang kulakukan tadi.
            “Kan sudah kubilang, kalau aku tadi kehujanan saat dijalan.”
            “Kalau begitu, kenapa hanya sedikit dari bajumu yang basah? Hujannya berlangsung sekitar 10 menit dan juga hujannya sangat lebat. Jadi, baju anda seharusnya basah seluruhnya, tidak sedikit seperti ini. yah, sudahlah” aku berhenti sejenak, meminum  minuman yang aku beli, dan melanjutkannya.
. “Tidak ada gunanya berdebat, karena aku akan mengungkapkannya. Pelaku dari kasus pembunuhan kali ini adalah anda bukan, Ahmad Rudi?”
            “Ha? Bicara apa kau ini?” terdengar nada meremehkan dan mencela darinya.
            “Hadeeh... kalau begitu, akan aku buktikan. Pertama, dari celana anda. Kenapa celana anda bisa ada noda pasir, sedangkan anda bersaksi bahwa anda berada di dekat swalayan? Padahal swalayan itu tidak ada area berpasir disekelilingnya. Hal ini membuktikan kalau anda berada di TKP pada saat kejadian, sehingga membuat celana anda terdapat noda pasir. Dan yang kedua, sidik jari yang terdapat disana adalah sidik jari anda. Dan juga, polisi menemukan pelastik aneh di dekat pipa tersebut. anda menggunakannya untuk menutupi lengan anda sehingga ketika anda menembak, tangan anda tidak terkena bubuk musiu, dan payung anda gunakan untuk membatasi agar bubuk musiu tidak menempel di baju anda. Alasan anda membunuhnya menggunakan pistol adalah, karena korban pernah membunuh pacar anda, menggunakan pistol dengan jenis yang sama seperti yang anda pakai saat ini. dan juga, kesaksian anda tadi tidak sepenuhnya salah. Karena kami menemukan pistol di dalam tong sampah di dekat swalayan itu. Tanpa sadar, anda mengatakan lokasi anda menyembunyikan pistol itu. Kenapa anda tertunduk? Anda menyerah ya? Baiklah, Paman bisa menahannya sekarang. Oh ya, sekalian juga tahan Bang Andera. Dia adalah komplotan dari geng motor yang sering membuat resah warga di sekitar sini. Aku melihat simbol tengkorak di tangannya, jadi karena itu dia menggunakan perban. Nah, untuk buktinya, coba anda lepaskan perban anda. Nah,terlihat jelas bukan? Simbol itu adalah geng motor ACM yang suka membunuh akhir akhir ini. baiklah, saya pulang dulu. Tugas saya selesai disini.” kataku sambil membungkuk, dan menertawakan kedua tahanan itu. Aku tidak percaya, aku mendapatkan 2 pembunuh sekaligus. Yah, kasus ini sudah selesai dan sekarang aku ingin pulang.
            “Semoga, Paman Rahmat memberiku bonus karena menangkap 2 penjahat sekaligus. Uang bulananku kritis, dan Akihabara sebentar lagi akan mulai. Ah sial...” kataku sambil menendang tong sampah yang ada di dekatku.
            Aku berjalan terhuyung huyung karena kelelahan dan kelaparan. Dan akhirnya akupun tumbang di depan toko roti. Aku di papah masuk, oleh seorang gadis yang kemungkinan adalah anak dari pemilik toko roti tersebut. mereka merawatku sampai aku sadar. Mereka memberiku sepotong roti berukuran sekitar 10 cm.
            Aku berterimakasih kepada mereka dan menanyakan nama gadis itu. Untungnya, dia mau memberitahukan namanya. Sakura Andini, seorang pelajar SMA kelas 10 yang berada di SMA yang sama denganku. Dia juga menanyakan namaku, dan ketika aku menyebutkannya, mereka bertiga, Sakura, ibunya dan adik laki lakinya terkejut. Mereka mengatakan kalau mereka sangat senang membantu orang yang menyelesaikan kasus pembunuhan atas ayahnya. Mendengar itu, aku baru ingat. Kasus itu adalah kasus pembunuhan berantai yang aku selesaikan 2 tahun yang lalu. Itu adalah kasus pertamaku. Sejak saat itu, mereka bertiga mengaku menjadi fans beratku dan itu membuatku tersipu malu. Lalu Sakura bertanya kepadaku “Kenapa kamu ingin menjadi detektif? Padahal detektif itu berurusan dengan kematian.”
            Lalu aku menjawabnya dengan senyuman, “Yah alasan sebenarnya sih, karena aku membenci orang yang melanggar peraturan. Dan juga, aku bisa berhadapan dengan banyak orang yang berbahaya. Itu menantang adrelaniln, dan sangat seru."

            “Dasar, Alasan yang sangat aneh.” Katanya sambil tertawa. 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Reason?

0 komentar:

Posting Komentar