Cerita Pendek Misteri-
Reason?
Aku berjalan, mengitari kota
pekanbaru, sambil memegang sebuah dompet. Aku melihat kedalamnya, uang 2 lembar
Tuanku Imam Bonjol, 3 lembar Pangeran Antasari, dan 5 lembar kapiten Patimura.
Dengan uang yang pas pasan itu, aku melihat kelangit, dan berharap tidak ada
hal yang membuatku mengeluarkan uang disana.
Setelah
berjalan cukup jauh, akhirnya aku sampai di lokasi terjadinya pembunuhan.
Dengan gang kecil yang sepi, tong sampah yang tumbang dan berserakan, dan
sesosok tubuh yang tergeletak, serta tanah yang sedikit basah diakibatkan hujan
deras beberapa menit yang lalu, membuat bulu kudukku merinding.
“Selamat datang, Alexa. Kami sudah
menunggumu.” Kata Paman Rahmat, seorang polisi berpangkat Iptu.
“Gimana keadaannya, paman?” Aku lalu
melepaskan jaket ku, dan meletakkannya diatas motor polisi.
“Menyedihkan. Tulang rusuknya patah, rahang
atasnya patah, pelipisnya terluka, dan jantungnya ditembak. Tapi, kita tidak
menemukan jejak kaki dari pelaku, maupun dari korban.” Matanya sedikit
mengecil, menandakan ia sangat prihatin terhadapnya. Lalu ia memberikanku
sebuah kertas, yang berisikan data mengenai korban.
“Waktu kematian korban adalah antara jam 8
sampai jam 8.30. berarti, sudah 30 menit ya? apakah jalanan sudah diblokir?”
tanyaku memastikannya.
“Tenang saja. kami sudah memblokir dengan
radius 2 Km dari sini. Dan juga, apa Kamu tahu sesuatu?”
“Hmm... Biar aku periksa dulu.” Aku lalu membungkuk,
mencoba memijak tanah, lalu meraba tanah yang basah itu, dan berdiri kembali. “Ada perkelahian disini. aku pikir kalau si
tersangka menggunakan suatu benda yang terbuat dari aluminium yang ringan, dan
memukul si korban menggunakan aluminium itu. Aku tidak tahu pasti panjangnya
berapa, tapi dilihat dari luka memarnya, aku dapat mengatakan kalau lebar dari
pemukulnya sekitar 4-6 cm. dan juga, dia menuliskan sesuatu, tunggu sebentar, aku akan memeriksanya.” Aku lalu
menunduk, dan mencoba meraba tanah itu kembali. Aku merasakan adanya tanah yang
tenggelam, walaupun sedikit. Aku berdiri, dan tersenyum sebentar.
“Kenapa Kamu tersenyum? Apa Kamu dapat
sesuatu yang menarik?” wajah Paman Rahmat terlihat sangat bingung, dan itu
wajar saja sebab aku tiba tiba tersenyum kecil setelah meraba tanah tersebut.
“Hmm... gimana mengatakannya, ya? Aku hanya
bisa menebak gambar yang ditulis korban, yaitu gambar payung. Jadi, ada
kemungkinan kalau pelakunya menggunakan payung, untuk menghindari dari bubuk
musiu akibat tembakan tersebut. dan juga, disini dikatakan kalau dia pemimpin
organisasi mawar putih. Dia menggunakan jas, dan menggunakan mawar putih disaku
bajunya. Jadi, ada kemungkinan kalau dia sedang atau akan mengadakan pertemuan.
Bajunya itu mencolok, jadi kita akan mudah untuk mendapatkan anggotanya, dan
menanyakannya. Kalau begitu, bisakah kita mencari mereka sekarang? Oh ya, satu
lagi. Kalau bisa, cari orang yang tingginya sekitar 170-180 cm, dengan berat
sekitar 70-80 Kg, walaupun dia tidak menggunakan jas yang sama. Dan sebaiknya
kita membagi 2 tim, tim pertama bertugas untuk mencari senjata pembunuhannya,
dan tim kedua bertugas untuk mencari tersangkanya.”
Lalu
Paman Rahmat langsung membagi mereka menjadi 2 tim, dan menyuruh mereka
melakukan apa yang aku katakan. Aku senang melihat mereka. Mereka bertindak
cepat dan sangat efisien. Hanya dalam hitungan menit, mereka sudah menemukan 4
tersangka dengan kriteria yang aku katakan. Paman Rahmat langsung menyuruh mereka
bertiga untuk pergi ke sebuah ruangan kosong untuk dimintai keterangan.
Sementara
Paman Rahmat melakukan tugasnya, aku juga melakukan tugasku sendiri, yaitu
mencari payung seperti yang digambarkan. Aku mencarinya di beberapa tempat,
namun tidak menemukannya. Aku lalu masuk ke sebuah jalan kecil, yang sama
sekali tidak ada orang disana. aku berjalan jalan sebentar, dan menikmati
pemandangan dari rimbunan pohon besar. Tak lama kemudian, aku terkejut, dan
tersenyum, serta tertawa. Akhirnya aku mendapatkan bukti penting dari kasus
ini, yaitu sebuah payung. Aku lalu memeriksa payung tersebut dengan cara
mengembangkannya, dan menemukan sebuah lobang berdiameter sekitar 8-13cm.
Payung itu transparan, jadi sangat mudah untuk melihat dari balik payung itu.
Aku lalu membawa payung itu untuk diserahkan kepada polisi agar di periksa
lebih detail.
“Yo, Paman. Gimana? sudah selesai? Apa
senjatanya sudah ditemukan? Aku menemukan bukti penting.” Aku lalu
memberikan payung itu.
“Hahaha... Anak dari Detektif International
memang hebat.” Kata Paman Rahmat sambil memegan pundakku. Aku merasa
sedikit kesal, dan menepis tangannya.
“Maaf, paman. Jangan ucapkan kalimat itu
lagi. Aku tidak suka mendengarnya. Kalau begitu, bisa aku pinjam pernyataan
dari tersangka? Dan bisa panggilkan semuanya kemari? Aku sudah hampir
menyelesaikannya.” Aku lalu mengambil kertas yang ada di meja, dan
membacanya. Berikut, keterangngannya.
Ahmad
Rudi (LK), umur 31 tahun. Anggota organisasi mawar putih, mengenakan dress code
yang sama dengan korban. Tinggi sekitar 176 cm, dengan berat 71 Kg. dibagian
bawah celananya, terdapat noda pasir. Mengaku, ia sedang menunggu temannya
didekat tong sampah di depan swalayan.
Dermian
Leo (LK), umur 28 tahun. Anggota organisasi mawar putih, mengenakan dress code
yang sama dengan korban. Tinggi sekitar 170 cm, dengan berat 77 Kg. Bajunya
sedikit basah akibat kehujanan. Mengaku,
ia saat kejadian ia sedang mengendarai motornya, dan baru sampai disana 5 menit
setelah kejadian.
Andera
Yudi (LK), umur 25 tahun. Bukan anggota organisasi mawar putih, mengenakan baju
kaos lengan panjang berwarna ungu dengan corak hitam. Dan celana berwarna abu
abu mengkilap, dengan sepatu boot tinggi. Tangan kanannya dibalut dengan perban
hingga ke sikunya. Tingginya sekitar 177 cm, dengan berat 76 kg. tidak ada
pakaian yang basah. Mengaku pada saat kejadian, dia sedang berada di dalam toko
kue.
Afrizal
Muftia (PR), umur 27 tahun. Bukan anggota organisasi mawar putih, mengenakan
baju kemeja lengan panjang berwarna pink polos. Dan celana jeans hitam, dengan
sepatu sport. Tingginya sekitar 170 cm, dan berat 70 kg. pakaiannya tidak
basah. Ia mengaku, pada saat kejadian dia sedang berteduh sehabis olah raga.
Aku
tersenyum sekali lagi. Kali ini, dengan senyuman kecil, yang menandakan niat
tertentu. Aku menemukan siapa pelakunya. Dan juga, setelah mendapatkan data
yang dapat diambil dari payung itu, aku akhirnya memenangkannya.
“Baiklah, abang abang, dan kakak sekalian.
Perkenalkan, saya Alexa Kairy, akan mengungkapkan kebenaran dari kasus ini.”
kataku sambil membungkukkan diri memberikan salam.
“Tunggu sebentar. Jadi, kami diperiksa, atas
permintaan anak SMA ini? lihatlah, dia tidak terlihat pintar. Lagian, kamu itu
siapa?” kata Kak Afrizal dengan nada sedikit marah dan kecewa.
“Yah, maaf saja kalau aku tidak pintar. Aku
hanyalah seorang pejalan kaki yang nyasar ke setiap kasus pembunuhan. Baiklah,
sekarang aku akan mengatakannya. Pertama, dari kondisi korban. Pelaku
menggunakan sebuah benda seperti pipa yang terbuat dari aluminium, dengan
panjang sekitar 50-70 cm, dan lebar sekitar 4-6 cm. hal itu dapat diketahui
dari jarak jejak kaki korban dan pelaku, serta ukuran memar yang diterima oleh
korban. Dan yang kedua, kenapa pelaku tidak membunuh korban menggunakan pipa
itu, melainkan menggunakan pistol? Sebelumnya, aku ingin bertanya, apakah ada
alasan dibalik anda menggunakan perban itu, Bang Andera? Apakah ditanganmu itu
ada bubuk musiu akibat tembakan yang anda lakukan?” kataku sambil tersenyum
licik dan tatapan sinis terhadapnya.
Lalu
ia menjawab dengan sangat gugup“I..itu,
tidak ada alasan khusus. Aku hanya melukai tanganku saat memasak. Itu saja.”
“Heee...? memasak, sampai ke tangan
dan siku ya? Hebat sekali caranya kok bisa pisau tiba disana. Hahaha...” Kataku sambil tertawa
terbahak bahak akibat mendengar dari penjelasannya.
“Di..diam kau, Bocah...”nada bicaranya
terdengar bergelombang, menandakan ia sedang geram dan marah.
“Maaf maaf, tapi apa yang bisa anda lakukan?
Aku ada dipihak polisi, jadi anda tidak bisa macam macam denganku. Hahaha...
maaf, jangan kesal begitu. Baiklah, akan aku lanjutkan. Aku menemukan sebuah
payung di dekat sebuah jalan kecil. Disana tidak ada orang ataupun rumah. Jadi,
sangat mudah untuk menyembunyikan benda disana. aku lalu mengambilnya dan
menyuruh polisi untuk melakukan pengecekan terhadap payung ini. karena hujan,
ada beberapa sidik jari yang hilang, namun ada satu yang tertinggal. Yaitu
sidik jari telunjuk sebelah kiri. Dan juga, polisi baru menemukan senjata yang
aku sebutin tadi, yaitu pipa aluminium. Disana, ada beberapa sidik jari yang
melekat, dan tentu saja ada satu sidik jari yang sama, yaitu sidik jari
telunjuk sebelah kiri. Dengan ini, dapat kita simpulkan kalau pelakunya
menggunakan payung dan pipa ini. Payung ini disembunyikan, jadi apakah ada
alasannya, kenapa baju anda basah, Bang Leo?” kataku sambil tersenyum lagi
dan menatap sinis kepadanya, sama seperti yang kulakukan tadi.
“Kan sudah kubilang, kalau aku tadi
kehujanan saat dijalan.”
“Kalau begitu, kenapa hanya sedikit dari
bajumu yang basah? Hujannya berlangsung sekitar 10 menit dan juga hujannya
sangat lebat. Jadi, baju anda seharusnya basah seluruhnya, tidak sedikit
seperti ini. yah, sudahlah” aku berhenti sejenak, meminum minuman yang aku beli, dan melanjutkannya.
.
“Tidak ada gunanya berdebat, karena aku akan mengungkapkannya. Pelaku dari
kasus pembunuhan kali ini adalah anda bukan, Ahmad Rudi?”
“Ha? Bicara apa kau ini?” terdengar nada meremehkan
dan mencela darinya.
“Hadeeh... kalau begitu, akan aku
buktikan. Pertama, dari celana anda. Kenapa celana anda bisa ada noda pasir,
sedangkan anda bersaksi bahwa anda berada di dekat swalayan? Padahal swalayan
itu tidak ada area berpasir disekelilingnya. Hal ini membuktikan kalau anda
berada di TKP pada saat kejadian, sehingga membuat celana anda terdapat noda
pasir. Dan yang kedua, sidik jari yang terdapat disana adalah sidik jari anda.
Dan juga, polisi menemukan pelastik aneh di dekat pipa tersebut. anda
menggunakannya untuk menutupi lengan anda sehingga ketika anda menembak, tangan
anda tidak terkena bubuk musiu, dan payung anda gunakan untuk membatasi agar
bubuk musiu tidak menempel di baju anda. Alasan anda membunuhnya menggunakan
pistol adalah, karena korban pernah membunuh pacar anda, menggunakan pistol
dengan jenis yang sama seperti yang anda pakai saat ini. dan juga, kesaksian
anda tadi tidak sepenuhnya salah. Karena kami menemukan pistol di dalam tong
sampah di dekat swalayan itu. Tanpa sadar, anda mengatakan lokasi anda
menyembunyikan pistol itu. Kenapa anda tertunduk? Anda menyerah ya? Baiklah,
Paman bisa menahannya sekarang. Oh ya, sekalian juga tahan Bang Andera. Dia
adalah komplotan dari geng motor yang sering membuat resah warga di sekitar
sini. Aku melihat simbol tengkorak di tangannya, jadi karena itu dia
menggunakan perban. Nah, untuk buktinya, coba anda lepaskan perban anda.
Nah,terlihat jelas bukan? Simbol itu adalah geng motor ACM yang suka membunuh
akhir akhir ini. baiklah, saya pulang dulu. Tugas saya selesai disini.” kataku sambil
membungkuk, dan menertawakan kedua tahanan itu. Aku tidak percaya, aku
mendapatkan 2 pembunuh sekaligus. Yah, kasus ini sudah selesai dan sekarang aku
ingin pulang.
“Semoga, Paman Rahmat memberiku bonus karena
menangkap 2 penjahat sekaligus. Uang bulananku kritis, dan Akihabara sebentar
lagi akan mulai. Ah sial...” kataku sambil menendang tong sampah yang ada
di dekatku.
Aku
berjalan terhuyung huyung karena kelelahan dan kelaparan. Dan akhirnya akupun
tumbang di depan toko roti. Aku di papah masuk, oleh seorang gadis yang
kemungkinan adalah anak dari pemilik toko roti tersebut. mereka merawatku
sampai aku sadar. Mereka memberiku sepotong roti berukuran sekitar 10 cm.
Aku
berterimakasih kepada mereka dan menanyakan nama gadis itu. Untungnya, dia mau
memberitahukan namanya. Sakura Andini, seorang pelajar SMA kelas 10 yang berada
di SMA yang sama denganku. Dia juga menanyakan namaku, dan ketika aku
menyebutkannya, mereka bertiga, Sakura, ibunya dan adik laki lakinya terkejut.
Mereka mengatakan kalau mereka sangat senang membantu orang yang menyelesaikan
kasus pembunuhan atas ayahnya. Mendengar itu, aku baru ingat. Kasus itu adalah
kasus pembunuhan berantai yang aku selesaikan 2 tahun yang lalu. Itu adalah
kasus pertamaku. Sejak saat itu, mereka bertiga mengaku menjadi fans beratku
dan itu membuatku tersipu malu. Lalu Sakura bertanya kepadaku “Kenapa kamu ingin menjadi detektif? Padahal
detektif itu berurusan dengan kematian.”
Lalu aku menjawabnya dengan
senyuman, “Yah alasan sebenarnya sih,
karena aku membenci orang yang melanggar peraturan. Dan juga, aku bisa
berhadapan dengan banyak orang yang berbahaya. Itu menantang adrelaniln, dan
sangat seru."
“Dasar, Alasan yang sangat aneh.” Katanya sambil tertawa.

0 komentar:
Posting Komentar